Merdeka Gold (EMAS) Bersiap Jadi Tambang Emas Raksasa Baru Asia Pasifik, Bagaimana Sahamnya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) berpotensi menjadi menjadi salah satu tambang emas terbesar yang belum dikembangkan di kawasan Asia Pasifik. Proyek unggulannya, Pani Gold, membidik produksi sekitar 500 ribu ounce emas per tahun. Perseroan juga tercatat sebagai pengembangan emas berbiaya rendah di dunia.
Potensi besar tersebut mendorong Indopremier Sekuritas dalam riset inisisiasinya yang diterbitkan di Jakarta, beberapa hari lalu, merekomendasikan beli saham EMAS dengan target harga Rp 5.300 per saham. Target harga ini menggunakan valuasi berbasis DCF. Valuasi ini mencerminkan EV/cadangan US$ 1.000 per ounce dan EV/sumber daya US$ 700 per ounce.
Baca Juga
Tembus 4,8 Juta Ons, Cadangan 'Ore' Merdeka Gold (EMAS) Jauh Lampaui Kompetitor di BEI
Analis Indopremier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan mengatakan, rekomendasi beli tersebut mempertimbangkan proyek Pani Gold memiliki cadangan emas sebesar 4,8 juta ounce dan sumber daya mencapai 7,0 juta ounce, dengan kadar rata-rata 0,75 gram per ton (g/t).
Saham EMAS juga didukung pembangunan pabrik heap-leach berkapasitas 7 juta ton per tahun ditargetkan selesai pada awal tahun fiskal 2026. Sementara pabrik carbon-in-leach (CIL) dengan kapasitas 12 juta ton per tahun dijadwalkan rampung pada FY29F.
Selain faktor operasianal, Indopremier Sekuritas mengungkap, tren kenaikan harga emas global yang telah menembus rekor tertinggi di atas US$ 4.000 per ounce menjadi katalis positif bagi kinerja EMAS. Kenaikan harga emas masih terbuka, seiring dengan pasokan emas baru global akan terbatas setelah produksi tambang emas dunia mencapai puncak pada tahun 2026. “Kondisi ini mendukung tren harga emas yang lebih tinggi dalam jangka menengah,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Lanjutkan Eksplorasi Kuartal III-2025, Merdeka Gold (EMAS) Belanjakan Dana Segini Rp 9,84 Miliar
Faktor lain yang memperkuat prospek harga emas adalah pembelian emas berkelanjutan oleh bank sentral dunia serta potensi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed). Kedua faktor tersebut menjadi penopang utama bagi kenaikan harga emas di periode FY25F–FY29F.
Indopremier Sekuritas menyebutkan bahwa EMAS didukung strategi pertumbuhan yang berfokus pada monetisasi proyek Pani Gold melalui peningkatan kapasitas produksi. “Dengan penyelesaian pabrik heap-leach pada kuartal I-2026, perusahaan diperkirakan mulai mencatat laba bersih tahun depan, berbalik dari rugi bersih pada 2025. Sedangkan laba bersih tahun 2027 diperkirakan tumbuh 35%, seiring peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi,” tulisnya.
Baca Juga
Selain itu, Pani Gold diprediksi menjadi salah satu produsen emas berbiaya tunai terendah di dunia, dengan estimasi US$ 600–1.070 per ounce selama periode 2026-2029. Sejumlah faktor tersebut mendorong Indopremier Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham EMAS dengant arget harga Rp 5.300 per saham.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan pertumbuhan CAGR laba bersih sekitar +79% pada periode 2025-2029, didorong oleh kenaikan volume produksi dan asumsi harga emas US$4.200–4.600 per ounce. Kenaikan harga saham EMAS juga didukung peluang saham ini masuk dalam indeks GDXJ (Global Junior Gold Miners ETF) pada September 2026, yang dapat memicu arus dana masuk sekitar US$ 46 juta.

