Setelah Tembus Rekor US$ 4.000, Ini Target Baru Harga Emas
Poin Penting
- Harga emas menembus $4.000 per ons, naik 54% sejak awal tahun.
- Lonjakan didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga AS dan ketegangan geopolitik.
- Perak ikut mencetak rekor baru, naik 71% sepanjang tahun 2025.
- Bank sentral dan investor institusional terus membeli emas di tengah pelemahan dolar.
NEW YORK, investortrust.id - Emas melonjak melewati level $4.000 per ons pada Rabu (8/10/2025), melanjutkan reli yang memecahkan rekor di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang meluas, serta ekspektasi penurunan suku bunga AS, yang membuat investor beralih ke aset lindung nilai.
Perak juga naik ke rekor tertinggi pada Rabu, mengikuti reli emas ketika investor berbondong-bondong memburu aset ‘safe haven’.
Harga spot emas naik 1,7% menjadi $4.050,24 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga ditutup 1,7% lebih tinggi di $4.070,5.
Baca Juga
Emas Tembus Rekor US$ 4.000, Investor Global Panik Buru Aset ‘Safe Haven’
“Kekuatan emas mencerminkan latar belakang makroekonomi dan geopolitik yang sangat positif bagi aset lindung nilai, serta kekhawatiran terhadap aset aman tradisional lainnya,” ujar Matthew Piggott, direktur emas dan perak di Metals Focus,” dikutip dari Reuters .
Emas, yang secara tradisional dianggap sebagai penyimpan nilai di masa ketidakstabilan, naik 54% sejak awal tahun, setelah menguat 27% pada 2024. Ini menjadi salah satu aset dengan kinerja terbaik di 2025, melampaui kenaikan pasar saham global dan bitcoin, serta mengungguli pelemahan dolar AS dan minyak mentah.
Perak naik 71% sejauh tahun ini, diuntungkan dari faktor-faktor yang sama yang mendorong reli emas serta keketatan di pasar spot.
“Pasar perak terus mengetat, dengan meningkatnya tarif sewa, sementara stok Comex mencapai rekor tertinggi dan permintaan musiman India tetap kuat. Reli baru-baru ini juga didukung oleh arus masuk besar ke ETP,” kata Suki Cooper, Kepala Global Riset Komoditas di Standard Chartered Bank.
Reli logam mulia ini didorong oleh kombinasi faktor, termasuk ekspektasi penurunan suku bunga AS, ketidakpastian politik dan ekonomi yang meningkat, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, arus masuk besar ke ETF, serta pelemahan dolar.
“Dengan faktor-faktor ini berlanjut hingga 2026, kami tidak melihat adanya katalis yang dapat membuat emas terkoreksi secara signifikan saat ini. Karena itu, kami memperkirakan emas akan terus naik sepanjang tahun untuk mencoba menembus level $5.000 per ons,” tambah Piggott.
Penutupan pemerintahan AS memasuki hari kedelapan pada hari Rabu, menunda rilis data ekonomi penting dan memaksa investor mengandalkan sumber non-pemerintah untuk menilai waktu dan cakupan pemotongan suku bunga The Fed.
Baca Juga
Kepercayaan Konsumen AS Merosot, ‘Shutdown’ Ancam ‘Blackout’ Data Ekonomi
Pasar memperkirakan pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed mendatang, dengan pengurangan serupa diperkirakan terjadi pada Desember.
Pejabat Federal Reserve sepakat dalam rapat kebijakan mereka bahwa risiko terhadap pasar kerja AS telah meningkat cukup signifikan untuk membenarkan pemotongan suku bunga, tetapi banyak yang tetap waspada terhadap inflasi yang masih tinggi, menurut risalah pertemuan 16–17 September yang dirilis pada hari Rabu.
Baca Juga
Risalah FOMC: Mayoritas Anggota The Fed Dukung Dua Kali Pemotongan Lagi hingga Akhir 2025
Krisis global, seperti konflik di Timur Tengah dan perang di Ukraina, telah meningkatkan permintaan terhadap emas batangan, sementara gejolak politik di Prancis dan Jepang turut mendorong pelarian ke emas.
Secara global, arus masuk ke ETF emas mencapai $64 miliar sejak awal tahun, menurut data dari World Gold Council, dengan rekor $17,3 miliar hanya pada bulan September.
Selain itu, menurut analis, gejala “takut ketinggalan” atau FOMO (fear of missings out) juga memperkuat reli ini. Secara teknis, Indeks Kekuatan Relatif (RSI) emas berada di angka 87, menandakan logam tersebut sudah berada di wilayah jenuh beli.
HSBC pada hari Rabu menaikkan perkiraan harga rata-rata perak untuk 2025 menjadi $38,56 per ons dan untuk 2026 menjadi $44,50, dengan alasan ekspektasi harga emas yang tinggi, meningkatnya permintaan investor, dan potensi volatilitas perdagangan.
Momentum ini juga merembet ke logam mulia lainnya, dengan platinum naik 3% menjadi $1.666,47, level tertingginya sejak Februari 2013. Sementara itu, paladium melonjak 8,4% menjadi $1.449,69, menandai puncak lebih dari dua tahun.

