ASLC Bidik Pertumbuhan 15% dengan Penggerak Utama Caroline, Bagaimana Sahamnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC), emiten pedagang mobil bekas terbesar di Indonesia, diproyeksikan mencatat pertumbuhan pendapatan rata-rata (CAGR) tiga tahun sebesar 15% berkat kontribusi bisnis mobil bekas Caroline. Kinerja Caroline yang solid diperkirakan menjadi mesin pertumbuhan terhadap pendapatan konsolidasi ASLC sebesar 18,2% sepanjang 2024–2027.
Analis Samuel Sekuritas Jason Bastian dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan ini, menyebutkan bahwa pendapatan dari penjualan mobil bekas Caroline diperkirakan tumbuh 23,6% YoY menjadi Rp 830 miliar pada 2026 ditopang peningkatan volume penjualan 20% menjadi 5.400 unit dan kenaikan harga jual rata-rata (ASP) sekitar 3%.
Baca Juga
Penjualan Mobil Astra (ASII) Rebound 9,7% di September, Saham ASII Layak Dipertahankan Beli
“Ekspansi jaringan showroom dengan target dua gerai per tahun dari total 18, meningkatnya daya beli, dan dukungan belanja pemerintah akan memperkuat pangsa pasar sekaligus menaikkan margin kotor perseroan menjadi 5,4% pada 2026,” tulisnya dalam riset tersebut.
Sumber: Samuel Sekuritas
Hingga semester I-2025, ASLC mencatat pendapatan sebesar Rp 447,1 miliar atau naik 17,1% YoY. Namun, margin kotor turun menjadi 29% dari 33,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya akibat kenaikan harga pembelian kendaraan di Caroline. Pada 2026, pertumbuhan kinerja Caroline diproyeksikan mengangkat total pendapatan ASLC menjadi Rp 1,13 triliun atau tumbuh 19,8% YoY.
Terkait pasar kendaraan bekas, Jason mengatakan, daya tarik tetap tinggi di tengah lemahnya daya beli konsumen. Berdasarkan data OJK per April 2025, pembiayaan mobil bekas naik 9,8% YoY, berbanding terbalik dengan pembiayaan mobil baru turun 1,1% YoY dan penjualan wholesales mobil baru melemah 2,9% YoY.
Baca Juga
Autopedia (ASLC) Optimistis Kenaikan Penjualan Dua Digita Tahun Ini
Pada kuartal II-2025, ASLC membukukan pendapatan Rp 224,6 miliar atau naik 13,2% YoY, didorong pertumbuhan segmen mobil bekas 19,6% YoY terdorong lonjakan volume penjualan 27,4% menjadi 972 unit.
Meski demikian, laba bersih kuartal II-2025 turun menjadi Rp 6,3 miliar (-49,2% YoY) dengan margin bersih 2,8%. Secara kumulatif, laba bersih semester I-2025 tercatat Rp 18,6 miliar, turun 23,8% YoY. Ke depan, permintaan mobil bekas diperkirakan tetap lebih kuat dibanding mobil baru, karena cicilan bulanan yang lebih rendah meski bunga lebih tinggi, serta kemudahan pembelian melalui platform omnichannel Caroline.
Baca Juga
Tak Mau Terjebak Drama 'Shutdown' AS, Anindya Bakrie Ajak Pengusaha Fokus Kapasitas Ekspor
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, tingginya permintaan mobil bekas ditopang biaya kepemilikan lebih murah atau sekitar 36% lebih hemat, dibanding mobil listrik terjangkau seperti Atto 1 untuk periode penggunaan lima tahun. Selain itu, permintaan kuat untuk model MPV bekas masih sulit tergantikan oleh kendaraan listrik tiga baris, yang harganya masih di kisaran Rp 300 juta.
Hal ini mendorong tim riset merekomendasikan beli saham ASLC dengan target harga Rp 135 per saham atau mencerminkan potensi kenaikan 61%. Valuasi ini menggunakan pendekatan Sum of the Parts (SOTP) dengan metode DCF (WACC 10%, terminal growth 4%) untuk bisnis lelang dan rasio P/S 0,8x untuk segmen penjualan kendaraan bekas, setara dengan P/E 2026F sebesar 29,4x.

