Aksi Jual Asing masih Deras hingga Outflow Saham Rp 54 Triliun, Ternyata Ini Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Aliran keluar dana investor asing dari pasar saham terus berlanjut hingga awal Oktober 2025 dipicu atas aksi jual saham big bank yang selama ini menjadi portofolio andalan pemodal asing. Penjualan bersih saham ini diprediksi berlanjut sampai akhir tahun atau hingga terlihat tanda pemulihan saham sektor perbankan nasional.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pemodal asing telah merealisasikan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 54,76 triliun atau setara dengan US$ 3,30 miliar sepanjang tahun 2025 berjalan atau year to date (ytd). Net sell terbanyak disumbangkan saham bank papan atas.
Baca Juga
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, aksi eksodus pemodal asing dipengaruhi faktor kondisi global yang masih menghadapi tantangan. Sedangkan faktor domestic dipengaruhi aksi tunggu investor asing terhadap kebijakan politik dan ekonomi.
“Net sell saham besar tersebut juga dipengaruhi penurunan indikator penting saham bank-bank besar. Kami melihat net sell diperkirakan berlanjut, apabila dari sisi kinerja emiten dan kebijakan belum mendukung untuk terjadinya inflow,” ujarnya kepada Investortrust di Jakarta, Rabu (8/10/2025).
Sementar itu, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi belum lama ini mengungkapkan bahwa berlanjutnya arus keluar modal asing (capital outflow) dipicu sejumlah faktor. Pertama, pelemahan rupiah akibat ketatnya interest differential setelah Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%, dibandingkan dengan Federal Funds Rate (FFR). “Kondisi ini mendorong investor asing mengurangi kepemilikan saham,” ujarnya.
Kedua, terang dia, perubahan kebijakan seperti burden sharing BI dan kekhawatiran pelebaran defisit anggaran turut menimbulkan ketidakpastian. Ketiga, pemulihan kinerja ekonomi yang berjalan lambat, meski suku bunga BI terus dipangkas, belum diikuti peningkatan demand secara signifikan.
Selain itu, dia mengatakan, berlanjutnya net sell saham dipengaruhi instabilitas politik dan sosial pasca demonstrasi yang memengaruhi kepercayaan investor asing. Investor juga cenderung lebih konservatif dengan mengalihkan dana ke aset safe havens, seperti emas yang mencatat rekor harga tertinggi (all time high).
Baca Juga
Begini Prospek Saham PANI dan CBDK di Tengah Potensi Pertumbuhan Laba Eksplosif
Di sisi lain, dia mengatakan, penguatan IHSG BEI ke level tertinggi baru sepanjang masa yang berlanjut hingga Oktober 2025 ini lebih ditopang oleh saham emiten konglomerasi, khususnya dari sektor teknologi dan energi, seiring rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE. Adapun sektor keuangan masih menjadi pemberat terbesar pada indeks LQ45 akibat tekanan harga saham.
Meski demikian, prospek emiten big caps di LQ45 tetap dipandang stabil hingga positif. Hal ini ditopang sentimen pelonggaran kebijakan moneter yang berpotensi menekan biaya dana sekaligus mendorong aktivitas ekspansi. Selain itu, perbaikan kinerja keuangan di kuartal III dan IV-2025 dapat menjadi momentum realokasi sektoral melalui window dressing.
Pasar Emering Market
Aksi jual saham oleh pemodal asing ternyata tak hanya melanda pasar saham Indonesia, bursa efek emerging market lainnya ikut mencatatkan net sell jumbo. Bahkan, total net sell lebih besar, dibandingkan dengan penjualan saham di BEI.
Berdasarkan data hingga terhitung sejak awal tahun hingga 3 Oktober 2025, net sell terbesar bursa saham emerging market melanda India sebanyak US$ 17,43 miliar, disusul Vietnam mencapai US$ 3,92 miliar, Malaysia mencapai US$ 3,58 miliar, Indonesia sekitar US$ 3,4 miliar, dan Thailand mencapai US$ 2.86 miliar. Sebaliknya bursa saham Singapura masih mencatatkan net buy saham.

