Saham TINS Melambung 113% Sebulan, Ternyata Ada Sejumlah Fakta Menarik Ini
Poin Penting
|
JAKARTA , investortrust.id – Harga saham PT Timah Tbk (TINS) melambung lebih dari 113% menjadi Rp 2.260 dalam sebulan terakhir. Lompatan harga tersebut membuat saham TINS masuk dalam daftar unusual market activity (UMA) Bursa Efek Indonesia (BEI), bahkan terbuka peluang terkena suspensi pekan depan.
Di tengah lompatan harga tersebut ternyata ada kabar terbaru dari emiten produsen timah terbesar di Indonesia ini. ‘BRI Danareksa Sekuritas Equity Snapshot’ yang diterbitkan di Jakarta, Jumat (3/10/2025), mengungkap sejumlah fakta menarik terkait kinerja operasional hingga potensi dividen emiten yang masuk dalam holding MIND ID ini.
Baca Juga
Prabowo Tutup 1.000 Tambang Timah Ilegal di Babel, Selamatkan Rp 22 Triliun Uang Negara
Analis BRI Danareksa Sekuritas Nashrullah Putra Sulaeman dalam risetnya usai pertemuan dengan manajemen TINS pada 1 Oktober 2025 mengungkap sejumlah fakta menarik. Di antaranya,Timah (TINS) merevisi naik target produksi tahun 2025 menjadi 30 ribu ton dari sebelumnya 21,5 ribu ton, seiring dengan peningkatan aktivitas penambangan dan pengawasan tambang ilegal.
Berdasarkan hasil pertemuan dengan manajemen TINS diungkap bahwa peningkatan produksi dipicu oleh operasi Satgas Mandala/Halilintar sejak Juni 2025 yang berdampak terhadap peningkatan produksi bijih timah bulanan dari 1,2 ribu ton menjadi 1,7 ribu ton. Bahkan, produksi timah pada Oktober–Desember 2025 diperkirakan bisa menembus 3 ribu ton per bulan. “Emiten pelat merah ini juga menargetkan peningkatan agresif produksi menjadi 80 ribu ton bijih timah pada 2026, meski rencana tersebut masih bersifat awal,” tulisnya dalam riset tersebut.
Manajemen TINS, ungkap Nashrullah, menyebutkan bahwa Satgas Mandala/Halilintar dalam penertiban tambang ilegal membuat TINS bisa menyerap bijih timah yang sebelumnya dijual oleh penambang ilegal secara gratis (zero cost), sehingga menekan biaya produksi.
Dari sisi peleburan, dia mengatakan, TINS memiliki kapasitas mencapai 75 ribu ton dengan tingkat utilisasi sekitar 50%. Peningkatan efisiensi operasional akan ditingkatkan guna menaikkan kapasitas dalam dua tahun ke depan. TINS juga akan terus menekan biaya melalui penurunan cash cost. Berdasarkan data, cash cost kuartal II-2025 turun menjadi US$ 20 ribu per ton, dibandingkan sebelumnya US$ 23–24 ribu per ton. Diprediksi biaya produksi bisa turun hingga US$ 16 ribu per ton, seiring peningkatan volume dan pasokan bijih tanpa biaya.
Baca Juga
Didukung Sejumlah Faktor Ini, Kinerja Keuangan dan Harga Saham Timah (TINS) Bisa Melonjak
Selain itu, dia mengatakan, TINS baru berkontribusi sebanyak 19 ribu ton terhadap total ekspor timah nasional berjuamlah 45 ribu ton. “Artinya terdapat kebocoran sekitar 26 ribu ton. Angka tersebut diharapkan bisa kembali direbut pada 2025–2026 melalui peningkatan produksi dan optimalisasi pengawasan distribusi,” tulisnya.
Perusahaan melibatkan Kejaksaan, Kementerian Energi dan Mienral, dan Bea Cukai untuk mengawasi rantai pasok timah nasional dari kebocoran. Begitu juga dengan harga bijih untuk mitra ditetapkan berdasarkan harga acuan resmi, bukan hasil negosiasi pasar. “Perseroan juga membidik peningkatan rasio dividen tahun buku 2025 menjadi 80%. Angka ini lebih tinggi dari realisasi tahun 2024 sebanyak 75%,” ujarnya.

