SMIL Ekspansi ke Tambang Batubara, Target Produksi 500 Ribu Ton per Bulan
JAKARTA, investortrust.id – PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) resmi melakukan ekspansi ke sektor pertambangan melalui skema Joint Operation (JO) dengan sejumlah mitra strategis. Langkah ini menjadi strategi diversifikasi bisnis untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang, setelah sebelumnya SMIL dikenal fokus di bidang transportasi dan logistik.
Dalam kerja sama tersebut, SMIL bermitra dengan entitas di bawah Sarana Cipta Minergi (SCM) yang dipimpin Hadi Suhermin, serta mitra lokal PT Barakara dan PT ATOZ sebagai pemegang IUP. SCM menguasai 40% saham operasional melalui anak usaha, sementara SMIL mendukung dengan penyediaan armada alat berat, mulai dari dump truck, excavator, dozer, hingga peralatan penunjang tambang.
Baca Juga
Proyek tambang yang digarap berlokasi di Painan, Sumatera Barat, dengan target produksi awal 200 ribu metrik ton batubara per bulan dan potensi meningkat hingga 500 ribu metrik ton. Batubara tersebut memiliki kualitas GAR 7000 kcal. Dari sisi kontribusi, SMIL menyiapkan kapasitas alat berat setara 4 juta ton per tahun yang diproyeksikan mampu menambah recurring income sekaligus memperluas portofolio di luar bisnis inti.
Direktur Utama SMIL Hadi Suhermin menegaskan bahwa langkah ini tidak hanya membuka peluang pendapatan baru, tetapi juga memperkuat sinergi dengan lini bisnis eksisting.
“Penyediaan jasa alat berat di sektor tambang akan meningkatkan utilisasi armada SMIL secara berkelanjutan dan memperkokoh posisi perseroan dalam rantai pasok pertambangan nasional,” ujarnya dalam keterangan Rabu (1/10/2025).
Baca Juga
Saham EMAS Melonjak Dekati ARA Usai First Mining Proyek Pani, Prospek Bullish hingga Rp 5.000
Hadi menambahkan bahwa ekspansi ke sektor tambang menjadi tonggak penting bagi SMIL. “Tambang akan menjadi motor pertumbuhan baru yang memberi value berkelanjutan bagi pemegang saham,” jelasnya.
Dengan proyeksi produksi hingga 500 ribu ton batubara per bulan dan dukungan armada modern, SMIL optimistis kontribusi sektor pertambangan akan menghasilkan pendapatan hingga ratusan miliar rupiah per bulan. “Kontribusi ini akan mulai tercermin pada kinerja keuangan tahun 2026,” terangnya.

