Kinerja dan Saham Antam (ANTM) Tetap Prospektif, Meski Ada Risiko Pasokan Emas dari Freeport
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Performa keuangan dan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan masih solid, meskipun menghadapi potensi risiko penurunan pasokan emas dari PT Freeport Indonesia (PTFI) akibat penghentian operasi di Grasberg sejak September 2025.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Erindra Krisnawan dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (2/10/2025), menyebutkan bahwa potensi gangguan pasokan dari Freeport hanya berdampak terbatas pada kinerja ANTM tahun buku 2026. “Sensitivitas analisis menunjukkan pelemahan laba bersih hanya sekitar 2,1-5,7%, jika skenario penurunan volume penjualan emas terjadi di kisaran 20–50% dari asumsi dasar 42 ton,” tulisnya dalam riset tersebut.
Baca Juga
Target Harga Saham Antam (ANTM) Direvisi Naik, Potensi Cuan Bisa Segini
Freeport Indonesia sebelumnya telah menandatangani perjanjian memasok emas kepada ANTM pada November 2024. Kontrak lima tahun ini mencakup pembelian 30 ton emas murni 99,99% per tahun dari Precious Metal Refinery Freeport di Gresik. Namun, dengan kapasitas produksi 50 ton per tahun, penghentian operasi Grasberg bisa memangkas output Freeport hingga 35% pada 2026.
“Meski ada ketidakpastian pemulihan operasi Freeport, kami memprediksi bahwa sensitivitas utama pergerakan kinerja dipengaruhi harga nikel ketimbang volume emas. Saat ini, harga nikel ore masih terjaga di sekitar US$ 52/wmt, lebih tinggi dari asumsi US$ 51/wmt,” tulisnya.
Terkait kinerja ANTM pada paruh pertama tahun ini, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, penjualan emas 29,3 ton, tumbuh 83,5% year-on-year. Bahkan, volume penjualan pada kuartal II-2025 mencapai 15,6 ton atau naik 13,3% dibanding kuartal sebelumnya.
Baca Juga
Produksi Freeport Berhenti Sementara, Bahlil: Fokus Evakuasi Korban
Sedangkan target volume penjualan emas ANTM tahun depan diperkirakan sama dengan target tahun ini mencapai 43–44 ton. Volume penjualan ini mempertimbangkan dukung kebijakan prioritas pasokan domestik. Margin bisnis emas juga diproyeksikan stabil di level 6,5–7%.
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham ANTM dengan target harga Rp 4.100 per saham. Target tersebut merefleksikan proyeksi PE sekitar 12,6 kali. Namun, jika skenario terburuk pasokan Freeport berlanjut, ada potensi penurunan valuasi sebesar 2,4–4,9%.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 7,94 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 3,64 triliun. Pendapatan perseroan juga diproyeksikan melambung menjadi Rp 89,76 triliun tahun ini, dibandingkan tahun 2024 mencapai Rp 69,19 triliun.

