Harga Wajar Saham Merdeka Gold (EMAS) Rp 7.900! Begini Perhitungannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga wajar saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencapai Rp 7.900 didukung cadangan posisinya sebagai perusahaan penambangan emas dengan sumber daya terbesar ketiga di Indonesia, biaya penambangan tergolong murah, target produksi sebanyak 495 ribu oz (troy ounce) per tahun, dan tren penguatan harga emas dunia.
Sedangkan berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi I, Jumat (26/9/2026), harga saham EMAS ditutup naik 1,82% menjadi Rp 3.360. Dengan harga penutupan tersebut dibandingkan dengan harga harga wajar Rp 7.900, terbuka peluang penguatan harga saham EMAS lebih dari 135% ke depan.
EMAS merupakan emiten yang listing di BEI sejak Rabu (24/9/2025) dengan harga perdana Rp 2.880. Berdasarkan prospectus diungkap harga perdana Rp 2.880 tersebut ditetapkan dengan asumsi konservatif. EMAS memiliki NPV senilai Rp 127 triliun atau setara dengan harga wajar Rp 7.900 per saham, sementara harga pasar saat ini berkisar Rp 3.300, sehingga investor membeli saham EMAS dengan diskon sekitar 58% dari nilai intrinsik.
Baca Juga
Himpun Dana Rp 4,66 Triliun, Harga Saham EMAS Melesat 25% Saat IPO
Harga wajar saham EMAS level Rp 7.900 ditopang sejumlah faktor. Di antaranya, Merdeka Gold Resources merupakan perusahaan pertambangan emas dengan total sumber daya emas sebesar 7,0 juta oz (troy ounce). Dengan sumber daya tersebut, EMAS tercatat sebagai perusahaan pertambangan emas dengan sumber daya terbesar nomor tiga di Indonesia. Biaya penambangan (cast cost) EMAS tergolong efisien, yakni mencapai US$ 1.200 per oz atau lebih rendah dibandingkan dengan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) berkisar US$ 1.881 per oz.
Berdasarkan riset Mandiri Sekuritas yang diterbitkan pada 16 September 2025, sumber daya EMAS menempati peringkat ketiga setelah PT Amman Mineral Internasional TbK (AMMN) sebanyak 32,8 juta oz dan PT Freeport Indonesia sebanyak 22,4 juta oz. Sumber daya EMAS mengungguli emiten tambang emas lainnya, seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan sumber daya sebanyak 5,1 juta oz, PT United Tractors Tbk (UNTR) melalui PT Angincourt Resources sebanyak 3,5 juta oz, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) sebanyak 3,4 juta oz, PT J Resources Tbk (PSAB) sebanyak 2 juta oz, dan PT Indika Energy Tbk (INDY) sekitar 1,5 juta oz.
Selain didukung sumber daya besar dan biaya penambangan yang murah, harga wajar saham EMAS senilai Rp 7.900 juga didukung target produksi awal sebanyak 80.000-120.000 oz emas mulai tahun 2026. Perseroan menargetkan penambangan dan commissioning alat akan dimulai bulan depan dilanjutkan dengan penumpukan di tapak pelindian emas (first stacking) pada November 2025. Sedangkan produksi emas komersial ditargetkan mulai kuartal I-2026.
“Dengan cash cost sekitar US$ 1.200 per oz (termasuk royalti), dibandingkan dengan perkiraan harga emas saat ini US$ 3.700 per oz, margin laba sebelum pajak EMAS bisa mencapai US$ 2.500 per oz dan setelah pajak mencapai US$ 2.000 per oz,” demikian informasi dalam prospectus IPO Saham EMAS yang diterbitkan di BEI beberapa waktu lalu. Dengan asumsi produksi mencapai 80.000-120.000 oz, laba sebelum pajak EMAS berpotensi mencapai US$ 160 juta-240 juta pada 2026 dan bisa mencapai US$ 1 miliar setelah perusahaan beroperasi dengan kapasitas penuh mencapai 495 ribu oz per tahun.
Faktor lain yang bisa menopang lompatan harga saham EMAS adalah potensi saham EMAS masuk dalam perhitungan MSCI Index large capital. Hal ini didukung kenaikan kapitalisasi pasar EMAS yang telah mencapai Rp 53,39 triliun pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Kamis (25/09/2025). Likuiditas saham EMAS pasca-IPO juga meningkat didukung oleh free float saham mencapai 13,63% bersamaan dengan target peningkatan kapasitas produksi. Masuknya saham EMAS dalam perhitungan indeks MSCI akan memicu arus dana pasif tambahan dan menarik investor asing.
Sementara itu, pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan, saham EMAS memiliki prospek kuat ke depan sejalan dengan rencana pengembangan proyek tambang emas Pani dengan target produksi awal tahun depan. Tambang tersebut menjadi sumber pendapatan utama perseroan. “Prospek kinerja emiten EMAS ke depan berpotensi baik dengan sumber pendapatan utama melalui tambang emas seperti proyek PANI. Bahkan, EMAS diprediksikan mulai membukukan laba bersih mulai 2026,” ujar Reydi, Kamis, (25/9/2025).
Baca Juga
IPO EMAS Diikuti 406.000 Investor dari 24 Negara, BEI: ‘Ini Coverage Terbanyak’
Prospek kuat saham EMAS juga didukung peluang berlanjutnya kenaikan harga emas dunia, apalagi komoditas emas tetap menjadi pilihan investor ke depan. “Jika harga emas global terus naik, maka saham EMAS dalam jangka pendek berpotensi naik. Dalam jangka menengah, kenaikan bisa berlanjut, jika progres pembangunan tambang sesuai jadwal dan mampu berproduksi sesuai target,” tegas Reydi.
Selain itu, dia mengatakan, EMAS merupakan emiten pertambangan emas yang memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan emiten tambang lainnya yang sudah listing di BEI. Hal ini ditunjukkan sumber daya perseroan jauh di atas BRMS dengan sumber daya 5 juta oz dengan target produksi 200 ribu oz per tahun pada 2025 dan ARCI hanya 3,5 juta oz dengan produksi sekitar 130 ribu oz di 2024. “Dengan kapasitas 495 ribu oz per tahun, EMAS diproyeksikan menjadi pemain besar di industri emas domestik,” terangnya.
Tren Harga Emas
Sementara itu, analis Mandiri Sekuritas Vanessa Taslim dan Ariyanto Kurniawan dalam riset yang diterbitkan pertengahan September ini telah merevisi naik asumsi rata-rata harga emas menjadi US$ 3.300 per oz dari sebelumnya US$ 3.200 per oz pada 2025. Begitu juga dengan asumsi harga emas tahun 2026 direvisi naik dari semula US$ 3.400 menjadi US$ 3.600 per oz.
“Prospek harga emas global diproyeksikan semakin cerah. Lembaga riset mempertahankan pandangan konstruktif terhadap emas yang ditopang oleh pembelian berkelanjutan bank sentral, arus masuk Exchange Traded Fund (ETF) yang solid, serta kondisi makroekonomi yang mendukung,” tulisnya.
Sepanjang tahun berjalan 2025, rata-rata harga emas sudah mencapai level US$ 3.177 per oz. Bahkan, pada perdagangan Selasa (23/09/2025), harga emas dunia cetak rekor tertinggi level US$ 3.763,82 per oz dan sempat menyentuh level tertinggi intraday US$ 3.790,82 per oz.
Tren penguatan harga emas juga diungkapkan analis UOB Kayhian Sekuritas Benyamin Mikael. Dalam riset yang diterbitkan pada pekan pertama September 2025 disebutkan bahwa ketidakpastian ekonomi global dan tren penurunan suku bunga akan menopang berlanjutnya kenaikan harga emas dunia. United Overseas Bank (UOB) mempertahankan pandangan positif terhadap emas.
Baca Juga
Emas Menguat 5 Pekan Beruntun, Ini Target Harga yang Diincar
Bank tersebut memproyeksikan rata-rata harga emas level US$ 3.400 per oz pada kuartal III-2025, meningkat menjadi US$ 3.500 per oz pada kuartal IV-2025, berlanjut dengan rata-rata US$ 3.600 per oz pada kuartal I-2026, dan kembali lanjutkan kenaikan dengan perkiraan rata-rata US$ 3.700 per oz pada kuartal II-2026.
Tentang EMAS
Merdeka Gold Resources (MGR), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), mengembangkan Proyek Emas Pani di Pohuwato, Gorontalo. Tambang tersebut memiliki potensi sumber daya mencapai 7 juta oz emas, sekaligus menjadikannya salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia. Proyek ini dirancang sebagai tambang berbiaya rendah dengan umur panjang dan produksi puncak hingga 500.000 oz per tahun, dengan produksi emas pertama dijadwalkan pada kuartal pertama 2026.
Perseroan sebelumnya telah melepas sebanyak 1,62 miliar saham baru atau setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga pelaksanaan Rp 2.880 per saham. Penawaran umum perdana (IPO) ini berhasil menghimpun dana masyarakat Rp 4,66 triliun. Dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk modal kerja anak perusahaan di bidang penambangan dan pengolahan emas, serta untuk pembayaran sebagian pinjaman.

