Bahas Kesepakatan Jumbo dengan Boeing, Garuda Indonesia (GIAA) Siap Tambah Armada
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) Wamildan Tsani turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Agenda utama lawatan tersebut bertujuan untuk membahas rencana pembelian 50 unit pesawat baru dari Boeing.
Direktur Niaga Garuda Indonesia Reza Aulia Hakim menegaskan, pengadaan armada baru akan dioptimalkan untuk memperkuat kinerja perseroan. Hingga 2029, Garuda Indonesia menargetkan penambahan sekitar 100 pesawat guna memperluas jaringan penerbangan internasional maupun domestik.
Baca Juga
Garuda (GIAA) Catat Pendapatan Rp 17,76 Triliun di Semester I 2025
“Direktur Utama kami mendampingi Presiden Republik Indonesia dalam lawatan ke Amerika Serikat untuk melakukan diskusi lanjutan mengenai rencana pengadaan armada dari Boeing,” ujar Reza dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Senin (22/9/2025), sebagaimana disiarkan TV Parlemen, Rabu (24/9/2025).
Reza menambahkan, perseroan terus menjalin pembicaraan dengan pabrikan pesawat untuk memastikan penambahan armada jangka panjang. Strategi tersebut ditempuh agar Garuda Indonesia memperoleh kepastian jumlah pengiriman dan harga yang lebih kompetitif.
“Kami terus menjajaki kerja sama dengan pabrikan pesawat untuk penambahan armada secara jangka panjang, agar Garuda Indonesia mendapatkan kepastian jumlah pesawat serta harga yang lebih kompetitif,” tuturnya.
Sebelumnya, Pemerintah RI melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melanjutkan kesepakatan pembelian 50 armada Boeing yang telah diteken Garuda Indonesia sebelum pandemi Covid-19.
Baca Juga
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan, dari puluhan armada yang dijanjikan Boeing, baru satu unit pesawat yang diterima. Sisanya diperkirakan baru dikirim pada periode 2031–2032.
Atas kondisi tersebut, Danantara memutuskan menyuntikkan dana lebih dari US$ 400 juta ke Garuda Indonesia. “Dana ini akan dialokasikan untuk perawatan dan optimalisasi armada, termasuk milik Citilink dan Garuda yang masih di-grounded. Banyak pesawat masih membayar cicilan leasing, namun tidak bisa beroperasi. Kami minta agar segera diperbaiki untuk kembali terbang,” jelas Rosan.

