Manajemen Ungkap Begini Potensi Kinerja United Tractors (UNTR) Semester II-2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) memproyeksikan penurunan sejumlah kinerja pada semester II-2025 dipengaruhi sejumlah faktor. Meski demikian, perseroan masih memilih mempertahankan target kinerja keuangan sampai akhir tahun atau tidak direvisi.
Direktur Keuangan United Tractor Vilihati Surya mencontohkan segmen usaha mesin konstruksi, UNTR menargetkan penjualan 4.600 alat berat Komatsu. Dengan realisasi 2.728 unit Komatsu terjual pada semester pertama, sisa target perusahaan menjadi 1.872, lebih rendah dari semester I-2025.
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Likuidasi Anak Usaha yang ‘Tidur’ 9 Tahun, Ini Alasannya
Vilihati menjelaskan, tingginya realisasi penjualan alat berat kecil maupun besar pada semester pertama disebabkan carry over pemesanan tahun-tahun sebelumnya. Pada alat berat yang cenderung kecil atau small machine, penjualan Komatsu didorong proyek food estate yang cukup kencang pada kuartal I-2025.
“Sehingga semester kedua kami menghadapi tantangan di lini machine karena coal price (harga batu bara) masih di kisaran US$ 100 per ton. Sehingga mining (perusahaan tambang) yang jadi salah satu customer utama kami hold (menahan) pembelian atau ekspansi equipment (penambahan mesin),” papar dia pada Astra Media Day 2025 di Menara Astra, Selasa (23/9/2025).
Sedangkan pada segmen usaha kontraktor penambangan, kinerja United Tractors (UT) melalui anak usaha yakni PT Pamapersada Nusantara (PAMA) telah mencatatkan penurunan sejak semester pertama. Volume pekerjaan pemindahan tanah sepanjang Januari-Juni 2025 mencatatkan total 533 juta bcm yang turun 9% (yoy).
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Akuisi Tambang Emas dari PSAB Bernilai US$ 540 Juta
Vilihati menyebut, pekerjaan pertambangan tersebut terganggu curah hujan yang cukup tinggi para paruh pertama tahun ini. “Mudah-mudahan semester kedua ini curah hujan tidak sebesar semester pertama. Jadi kami harap bisa di 1,18 miliar bcm full year atau turun hanya sekitar 3% dari tahun 2025,” sambungnya.
Dari segmen usaha pertambangan batu bara, manajemen membidik volume produksi sekitar 11 juta ton, termasuk penjualan batu bara dan batu bara metalurgi sebanyak 35% dari total batu bara ditambang. “Gold mining kami mengalami kenaikan sedikit pada semester I-2025 tetapi paruh kedua mungkin agak turun karena tambang emas terkait gold trading tetapi full year kita bisa naik secara tahunan (yoy),” ujar Vilihati.
Sedangkan untuk bisnis nikel, manajemen menargetkan penjualan 2 juta wet metrik ton (wmt) dengan porsi limonit 70% dan saprolite 30%. “Sudah dapat RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya) berarti jalannya menuju 2 juta ini bisa lah ya tercapai,” pungkasnya.

