Bitcoin Berpotensi Tembus US$ 120.000, Reli Belum Berhenti
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar kripto kembali menunjukkan momentum positif yang kuat setelah The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Ajaib Kripto memandang, sinyal risk-on langsung terasa, dengan Bitcoin (BTC) menembus level US$ 117.000.
“Kenaikan ini memperkuat perannya sebagai aset utama,” ujar Financial Expert Ajaib, Panji Yudha Jumat (19/9/2025).
Aset-aset besar lainnya juga menguat, dengan Ethereum (ETH) stabil di sekitar US$ 4.600, Solana (SOL) di US$ 246, dan XRP di US$ 3.03 sehingga reli kali ini tidak hanya dipimpin oleh Bitcoin.
“Altcoin lain juga bereaksi positif dari pemotongan suku bunga, dengan BNB bahkan berhasil menembus level US$ 1.000 untuk pertama kalinya,” sambung Panji.
Kenaikan tersebut didorong oleh sentimen pasar yang optimistis pada regulasi AS. U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) telah menyetujui kerangka kerja untuk listing produk ETF kripto.
Perubahan itu menjadi katalis penting karena menghilangkan proses persetujuan yang panjang dan rumit untuk setiap produk, sehingga membuka jalan bagi penerbitan ETF baru di luar Bitcoin dan Ethereum.
Dengan menempatkan kripto di bawah standar yang sama dengan aset tradisional seperti emas, SEC secara simbolis mengakui kripto sebagai kelas aset yang sah.
Baca Juga
The Fed Pangkas Suku Bunga, Bitcoin Belum Bergerak Signifikan
Arus Dana ETF Bitcoin & Ethereum
Setelah membukukan arus masuk (inflow) sebesar US$ 260,02 juta pada 15 September 2025 dan US$ 292,27 juta keesokan harinya, ETF Bitcoin justru mencetak arus keluar (outflow) US$ 51,28 juta pada 17 September 2025.
“Meski begitu, tren inflow di dua hari sebelumnya menegaskan kuatnya minat investor terhadap ETF Bitcoin,” menurut Panji.
ETF Ethereum terlihat lebih fluktuatif. Setelah mencatat inflow US$ 359,73 juta pada 15 September 2025, aliran dana berbalik negatif dengan outflow US$ 61,74 juta pada 16 September 2025, dan kembali mengalami outflow US$ 1,89 juta pada 17 September 2025.
Hari ini, Ajaib memproyeksi Bitcoin akan bergerak di kisaran US$ 116.000 - US$ 120.000. Sedangkan Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 4.300 - US$ 4.600.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) naik 0,70% bertengger di US$ 117.400 atau Rp 1,94 miliar. Dominasi pasar BTC (BTC.D) kini berada di level 57,7%, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto menguat 1% menjadi US$ 4,06 triliun.
Menurutnya, investor ritel masih menunjukkan sikap hati-hati. Data on-chain mengindikasikan penurunan pada New Address Momentum, yang berarti lebih sedikit alamat baru masuk ke pasar. “Kehati-hatian ritel ini wajar, karena volatilitas Bitcoin memang tinggi. Namun, di sisi lain, aksi dari institusi justru menjadi fondasi utama reli kali ini,” jelasnya.
Antony menambahkan, level psikologis US$120.000 akan menjadi tonggak penting. Jika berhasil dilewati, bukan hanya kepercayaan investor yang semakin tinggi, tetapi juga potensi masuknya likuiditas baru dari institusi akan semakin besar.
Meski demikian, INDODAX menilai bahwa arah jangka panjang Bitcoin tetap positif, khususnya di tengah perubahan kebijakan moneter global. “Kita harus melihat gambaran besar. Penurunan suku bunga menandakan likuiditas kembali mengalir. Dalam sejarah, situasi ini selalu menjadi katalis bagi pertumbuhan aset digital,” kata Antony.
Arus masuk ke ETF Bitcoin sepanjang pekan ini mencatat tren positif, meskipun sempat melambat saat keputusan FOMC belum diumumkan. Data ini memperkuat pandangan bahwa investor besar tidak terpengaruh gejolak jangka pendek.
Baca Juga
'Trader' Bitcoin Bidik US$ 120.000 Setelah Pertemuan FOMC Meski Pasar Sedang Alami Volatilitas
Antony menggarisbawahi perbedaan sikap antara investor ritel dan institusi. Institusi berinvestasi dengan visi jangka panjang. Sementara ritel masih sering terjebak dalam pola fear and greed. Perbedaan perilaku ini yang membuat tren harga saat ini lebih stabil.
”Ia menekankan bahwa fenomena ini juga menjadi pelajaran penting bagi investor kripto di Indonesia. “Bagi para pengguna INDODAX, pergerakan ini memberi sinyal bahwa strategi akumulasi jangka panjang, seperti DCA (Dollar-Cost Averaging), lebih relevan daripada sekadar mengejar keuntungan harian. Jika tren arus masuk institusional terus berlanjut, pasar berpotensi melihat kapitalisasi Bitcoin mendekati level tertinggi baru. Hal ini juga akan berdampak pada altcoin, meskipun secara historis altcoin cenderung bergerak lebih volatil,' katanya.
INDODAX mencatat bahwa minat pengguna lokal tetap tinggi, terbukti dengan jumlah investor INDODAX yang sampai saat ini terus tumbuh hingga 9 juta lebih. Bahkan, sepanjang tahun ini sudah menambah hampir 2 juta member baru. Meskipun sebagian investor ritel masih menunggu konfirmasi tren, aktivitas transaksi di platform tetap stabil. Hal ini mencerminkan adanya kepercayaan yang konsisten terhadap aset digital di Indonesia.
Menurut Antony, kebijakan moneter global akan tetap menjadi faktor utama penentu arah Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan. “Pasar akan terus memantau langkah The Fed berikutnya. Jika siklus pemangkasan suku bunga berlanjut, maka ruang pertumbuhan Bitcoin semakin terbuka," kata ia.
“Kita sedang menyaksikan fase baru Bitcoin, di mana adopsi institusional memberikan fondasi lebih kokoh. Selama fundamentalnya terus terjaga, saya percaya Bitcoin akan tetap menjadi instrumen investasi yang relevan, bukan hanya hari ini, tetapi juga di masa depan,' ungkapnya.
Analisa saham dan kripto dengan mudah dan cepat dengan InvestingPro, dapatkan diskon tambahan khusus untuk pembaca Investortrust, klik di sini

