Saham BBTN Meroket 8,24% ke Level Tertinggi 2025, Sentimen Ini Jadi Penopang
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melesat sebanyak Rp 105 (8,24%) ke level tertinggi intraday tahun ini Rp 1.380 pada perdagangan saham intraday, Kamis (11/9/2025). Penguatan harga saham tersebut jauh mengungguli kenaikan harga saham bank BUMN maupun bank lainnya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data BEI hingga pukul 09.30 WIB, saham BBRI menguat 4,90% menjadi Rp 4.070, saham BBNI menguat 6,10% menjadi Rp 4.350, BMRI menguat 2,05% menjadi Rp 4.490, BRIS menguat 4% menjadi Rp 2.600, dan BBCA menguat 1,28% menjadi Rp 7.900.
Baca Juga
"On Track", BTN Ungkap Bank Syariah Nasional Dapat Beroperasi Penuh Sebelum Tahun 2026
Dengan harga mencapai level Rp 1.380, penguatan saham BBTN telah lebih dari 21% sepanjang year to date (ytd) dan mencapai 23,76% dalam sebulan terakhir. Kenaikan harga tersebut lebih tinggi, dibandingkan saham bank lainnya, seperti BRIS, BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA.
Lompatan harga saham perbankan tersebut didukung pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa usai menghadiri pertemuan terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto bahwa pemerintah berniat mengucrkan dana sebesar Rp 200 triliun kepada perbankan. Aliran dana tersebut menjadi sentimen positif terhadap emiten perbankan, khususnya Bank BUMN, seperti BBTN.
Purbaya mengatakan, dana tersebut berasal dari kas negara menganggur, termasuk SAL dan SiLPA, dan bukan berbentuk pinjaman, melainkan simpanan untuk memperkuat saluran kredit. Bank dilarang menggunakan dana itu untuk membeli obligasi pemerintah atau SRBI, sehingga dukungan benar-benar tersalurkan ke sektor riil. “Tujuannya supaya bank punya duit banyak cash tiba-tiba dan dia tidak bisa taruh di tempat lain selain dikreditkan. Jadi kita memaksa market mekanisme berjalan,” jelasnya.
Kebijakan tersebut, ungkap Purbaya, dipastikan tidak akan menimbulkan hyper inflasi. Sebab, secara prinsip inflasi akan terjadi, apabila pertumbuhan kredit di atas laju pertumbuhan potensial. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada pada kisaran 6,5% atau jauh dari ancaman inflasi. “Jadi kalau saya injek stimulus ke perekonomian, harusnya kalau ekonominya masih di 5%, masih jauh dari inflasi,” ungkapnya.
Baca Juga
Terkait prospek harga saham BBTN, Samuel Sekuritas dalam riset terakhirnya telah merevisi naik rekomendasi saham BBTN menjadi buy dengan target harga baru Rp 1.600. Target harga ini merefleksikan perbaikan margin bunga bersih (NIM) serta langkah manajemen menaikkan target pertumbuhan kredit tahun ini. Sentimen positif juga ditopang oleh kinerja keuangan BBTN yang solid hingga semester I-2025.
Target harga ini mecerminkan valuasi PBV 2025F sebesar 0,48x. Target harga ini juga mempertimbangkan kenaikan target pertumbuhan kredit 2025 ke 7–9% dari sebelumnya 7–8% yang didukung program FLPP dan KUR Perumahan. Sementara itu, target pertumbuhan DPK juga dinaikkan menjadi 8–10%.
Analis Samuel Sekuritas, Brandon Boedhiman dan Prasetya Gunadi, dalam riset pekan lalu menyebutkan bahwa katalis utama saham BBTN datang dari pemangkasan suku bunga acuan BI sebesar 100 bps tahun ini yang akan menurunkan biaya dana, sehingga NIM diperkirakan tetap meningkat hingga akhir tahun. Revisi naik juga mempertimbangkan percepatan realisasi FLPP, penyaluran KUR Perumahan, serta pemulihan CASA. Tahun ini, kuota FLPP ditetapkan 350 ribu unit dengan anggaran Rp 31 triliun.
Baca Juga
Kenaikan target harga saham BBTN juga ditopang program KUR Perumahan yang tertuang dalam Permenko No.13/2025. Skema ini melengkapi FLPP dengan memberi pinjaman subsidi bagi pengembang maupun pembeli rumah. Nasabah bisa mengakses kredit hingga Rp 500 juta berbunga 6%, sementara pengembang mendapat plafon Rp 20 miliar untuk modal kerja atau investasi. Dengan program ini, BBTN diproyeksikan membiayai 50–100 ribu unit pada 2026.
Samuel Sekuritas juga merevisi naik proyeksi pendapatan operasional BBTN dari Rp 18,93 triliun menjadi Rp 21,07 triliun tahun ini. Laba bersih 2025 diperkirakan Rp 3,45 triliun dibanding realisasi tahun lalu Rp 3 triliun. Pada 2026, pendapatan ditargetkan Rp 22,86 triliun dan laba bersih Rp 3,68 triliun.

