Adu Strategi Kripto: Peter Thiel “Diversifikasi”, Michael Saylor “All-In” Bitcoin
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Dua miliarder teknologi dunia, Peter Thiel dan Michael Saylor tengah menempuh strategi berbeda dalam membangun ‘crypto treasury’ perusahaan mereka. Keduanya sama-sama menggelontorkan dana besar ke aset kripto, namun perbedaan pendekatan membuat arah investasi mereka kontras.
Melansir CoinTelegraph, Rabu (3/9/2025), pendiri sekaligus Chairman Strategy (sebelumnya MicroStrategy) Michael Saylor, dikenal sebagai sosok yang mendorong konsep ‘Bitcoin treasury company’. Melalui strategi menerbitkan saham atau surat utang untuk membeli Bitcoin, perusahaannya mampu terus menambah kepemilikan Bitcoin.
Skema yang oleh sebagian pengamat disebut ‘infinite money glitch’ ini membuat valuasi Strategy melejit seiring naiknya harga Bitcoin, meski berisiko menciptakan ‘death spiral’ (terjun bebas) saat harga turun.
Baca Juga
Perketat Pengawasan Aset Digital, India Bakal Adopsi Aturan Pelaporan Kripto
Saylor bahkan melihat Bitcoin bukan sekadar aset, melainkan instrumen geopolitik. Ia menilai Amerika Serikat (AS) perlu mengakumulasi cadangan Bitcoin sebagai ‘manifest destiny’ untuk mempertahankan dominasi global. Tak heran, strategi Saylor sepenuhnya berfoku pada Bitcoin, tanpa diversifikasi ke aset kripto lain.
Beda halnya dengan Peter Thiel. Melalui Founders Fund, ia menyalurkan investasi senilai US$ 200 juta ke Bitcoin dan Ethereum. Thiel juga memiliki eksposur pada perusahaan terkait kripto, seperti ETHZilla dan BitMine Immersion Technologies, serta mendukung bursa kripto Bullish yang baru saja melantai dengan valuasi US$ 1,15 miliar.
Baca Juga
Meski optimistis, Thiel lebih berhati-hati ketimbang Saylor. Ia pernah menyebut Bitcoin bisa saja menjadi ‘senjata finansial’ yang menguntungkan China dengan melemahkan dolar AS. karena itu, pendekatannya lebih terdiversifikasi dan penuh kalkulasi, tidak all in pada satu aset.
Fenomena perusahaan yang membangun crypto treasury semakin meluas. Situs BitcoinTreasurys.net mencatat ada 174 perusahaan publik yang menyimpan Bitcoin. Namun, para analis mengingatkan risiko volatilitas. Model ‘raise capital, buy Bitcoin, wait appreciation’ yang dipopulerkan Saylor bisa runtuh saat harga BTC jatuh, menggerus valuasi perusahaan sekaligus akses permodalan.
Belakangan, harga saham Strategy ikut melemah seiring turunnya harga Bitcoin. Meski begitu, Saylor tak berhenti belanja. Pada akhir Agustus lalu, perusahaan kembali membeli 3.081 BTC senilai US$ 356,9 juta.

