Barito Pacific (BRPT) Teken Fasilitas Kredit US$ 252,75 Juta, Berikut Penggunaannya
JAKARTA, investortrust.id — PT Barito Pacific Tbk (BRPT), emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu, menandatangani perjanjian fasilitas kredit berjangka (term loan facility) bersifat commited dan non revolving maksimal US$ 252,75 juta dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Dana akan dimanfaatkan untuk mendukung operasional perseroan.
BRPT dalam pengumuman resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (22/8/2025), menyebutkan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk operasional secara umum, termasuk untuk pelunasan uang berdasarkan facility agreement fo a term loan yang ditandatangani pada 5 Agustus 2020.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Dipicu Sinyal Permintaan AS dan Ketidakpastian Perdamaian Rusia-Ukraina
“Dengan diperolehnya pinjaman dari BRI berdasarkan Perjanjian Kredit dan Perjanjian Forex Line, maka akan meningkatkan kemampuan finansial dan aspek pendanaan bagi Perseroan dalam menjalankan usaha kedepannya,” tulis manajemen BRPT dalam penjelasan resminya.
Sebelumnya, BRPT membukukan lonjakan laba bersih setelah pajak sebanyak 3.348% dari US$ 50 juta menjadi US$ 1,72 miliar atau setara dengan Rp 28,39 triliun (kurs Rp 16.469 per dollar AS. Lompatan tersebut terutama didorong oleh keberhasilan akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (ACE) pada April 2025 yang menghasilkan pencatatan bargain purchase accounting.
Baca Juga
Wall Street Melemah Jelang Pidato Powell, Dow Tergerus 150 Poin
Kenaikan signifikan laba bersih emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu tersebut menjadikan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat dari US$ 34 juta menjadi US$ 540 juta. Sedangkan total aset meningkat 44,2% dari US$ 10,53 miliar menjadi US$ 15,19 miliar.
Kenaikan tersebut sejalan dengan peningkatan pesat pendapatna bersih sebanyak 178,6% dari US% 1,15 miliar menjadi US$ 3,22 miliar. Penyumbang utama berasal dari kenaikan pesat penjualan petrokimia sebanyak 237,9% dari US$ 866 juta menjadi US$ 2,92 miliar, segmen energi naik 3,4% dari US$ 290 juta menjadi US$ 300 juta, dan bisnis lainnya turun dari US$ 3 juta menjadi US$ 2 juta.

