Isu Akuisisi 51% Saham BBCA Dinilai Tak Masuk Akal, Analis: Kini Saat Tepat Berburu Sahamnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah analis menilai bahwa isu desakan agar pemerintah mengambilalih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai tidak masuk akal, karena memiliki risiko besar terhadap ekonomi, hukum, dan politik Indonesia. Sedangkan penurunan harga saham BBCA lebih dari 6% dalam lima hari terakhir menjadi momentum paling tepat untuk mulai mengoleksi saham emiten yang dikendalikan grup Djarum ini.
Isu desakan pemerintah untuk mengambil alih kepemilikan saham BCA (BBCA) dari Grup Djarum kembali mencuat dan memicu gejolak pasar. Isu ini bermula setelah Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN) dan ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Sasmito Hadinegoro, meminta skandal BLBI yang berkaitan dengan BCA dibongkar dan diumumkan kepada publik, dan berujung pada usulan akuisisi 51% saham BCA.
Pernyataan tersebut kemudian didukung Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi Teknologi DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Ahmad Iman Syukri mengungkap bahwa partainya mendukung usulan yang muncul di tengah publik, agar Presiden Prabowo Subianto bergerak cepat untuk mengakuisisi 51% saham BCA. Pengambilalihan harus sesegera mungkin dilakukan untuk menyelamatkan uang negara.
Baca Juga
Isu yang berkembang tersebut akhirnya direspons CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani. Dirinya memastikan bahwa Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) tidak berencana untuk mengakuisisi mayoritas saham BCA. “Enggak ada,” jawabnya singkat saat ditemui usai menghadiri rapat tertutup bersama Komisi XI DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/8/2025).
Berkembangnya isu desakan agar pemerintah mengakuisisi 51% saham BCA langsung berdampak negative terhadap pergerakan harga saham bank dengan kapitalisasi terbesar di Tanah Air tersebut. Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BBCA telah terkoreksi sebanyak 6,41% menjadi Rp 8.400 dalam lima hari terakhir.
Penurunan saham BBCA tersebut berbanding terbalik dengan tiga saham bank KBMI IV lainnya, seperti BBRI naik 0,99%, BBNI bergerak stagnan, dan BMRI turun sebanyak 1,22%. Meski demikian, pemodal asing justru makin agresif memborong saham BBCA dengan total pembelian bersih (net buy) mencapai Rp 443,99 miliar dalam lima hari terakhir. BBCA masuk dalam daftar top 5 sebagai saham yang diburu pemodal asing dalam sepekan terakhir.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, desakan agar pemerintah mengakuisisi 51% saham BCA hanya wacana yang digelontorkan orang tertentu. Pemerintah dinilai pasti sudah mengamati kondisi market yang terjadi. “Dinamika pasar yang berkembang ini kan bisa memengaruhi sikap maupun kebijakan pemerintah yang memang akan lebih menitikberatkan pada pro market,” ujarnya kepada Investortrust.id di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Baca Juga
BCA di Tengah Isu Pengambilalihan Paksa 51% Saham oleh Danantara
Tak hanya itu, dia mengatakan, BBCA merupakan emiten dengan kapitalisasi pasar besar lebih dari Rp 1.000 triliun atau terbesar setelah emiten PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), sehingga segala kebijakan terhadap emiten ini akan berpengaruh besar terhadap pasar saham Indonesia. “Jadi pemerintah pasti sudah mengamati dinamika pasar. Saya yakin pemerintah menitikberatkan pada pro market terhadap isu ini,” ungkapnya.
Secara fundamental, dia mengatakan, BBCA kuat didukung prospek pertumbuhan kreditnya yang kuat melebihi pertumbuhan kredit bank BUMN. Dengan penurunan harga yang pesat dalam beberapa hari terakhir, saham BBCA direkomendasikan akkumulasi beli dengan target harga resistance pertama Rp 8.550 dan target resistance terakhir Rp 12.325.
“Saat ini saham BBCA sedang mengalami fase mediation test dalam rangka fase major uptrend ke depan. Jadi, ketika saham BBCA sudah mengalami depresiasi harga, penurunan ini merupakan sebuah peluang untuk accumulative buy,” ujarnya.
Adapun, analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai bahwa jika wacana pengambilalihan 51% saham BBCA benar terjadi, risikonya besar terhadap perekonomian Indonesia. “Bagi BBCA ketidakpastian bisa muncul terkait independensi manajemen dan arah bisnis apabila intervensi politik semakin kental,” ujar Hendra.
Baca Juga
blu by BCA Digital Kenalkan blu 2.0, Hadirkan Sejumlah Fitur Ini di Aplikasinya
Tak hanya itu, Hendra menambahkan, wacana teresebut bisa membuat volatilitas IHSG makin tinggi ke depan, mengingat besarnya bobot kapitalisasi BBCA terhadap perhitungan IHSG BEI. “Koreksi tajam kali ini justru bisa menjadi peluang. Secara teknikal, saham BBCA berpotensi menguji area Rp 8.300 sebelum kembali ke resistance Rp 9.000,” jelasnya.
Peluang bangkitnya saham BBCA juga dapat dilihat dari massifnya aksi beli (net buy) saham ini oleh investor asing dalam sepekan terakhir Rp 443,99 miliar.
Sementara itu, Reydi Octa, penggiat Pasar Modal Indonesia, menilai bahwa penurunan saham BBCA dalam beberapa hari terakhir terseret sentimen isu pengambilalihan 51% saham oleh negara melalui Danantara. Menurutnya, kabar tersebut menimbulkan kekhawatiran investor terhadap potensi hilangnya independensi BCA sebagai bank swasta terbesar.
Meski demikian, Reydi menegaskan fundamental BBCA tetap kuat. Laba bersih semester I-2025 masih tumbuh 7,09% secara tahunan. “Penurunan harga saham lebih dipicu sentimen jangka pendek, bukan faktor internal. Potensi rebound masih cukup besar,” tegasnya.
Top Pick
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan pekan lalu mengungkap bahwa BBCA merupakan saham dengan pilihan teratas (top pick) dari daftar saham perbankan nasional. Adapun sektor saham nasional pada paruh kedua tahun ini diproyeksikan akan membaik, seiring perkiraan likuiditas perbankan mengalami perabikan setelah mencapai titik terendah pada kuartal II-2025. Prospek positif juga datang dari kejelasan program Kopdes Merah Putih yang diharapkan mendukung sektor ini.
Baca Juga
Laba BCA (BBCA) Capai Rp 29 Triliun di Semester I 2025, Naik 8%
Dengan valuasi saham bank yang turun ke level 2,1x PBV atau 0,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun, ditambah revisi turun laba, dan kinerja saham yang tertekan sepanjang tahun, risiko penurunan harga saham emiten saham bank kian mengecil. Begitu juga dengan kekhawatiran penurunan kualitas aset makin mengecil didorong kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit, sehingga kebutuhan likuiditas lebih terbatas.
Sejumlah faktor tersbeut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan netral saham perbankan dengan peluang perbaikan likuiditas dalam jangka pendek, valuasi terdiskon di 2,1x PBV, serta kejelasan program pemerintah yang meningkat. Kondisi ini diyakini akan menguntungkan saham bank yang sebelumnya underperform, seperti BBCA, BBRI, dan BMRI. Saham BBCA ditetapkan sebagai pilihan teratas yang direkomendasikan beli dengan target harga Rp 11.900.

