Eks Polisi Australia Kena Penipuan Kripto di Thailand, Rugi Nyaris Rp 20 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Mantan polisi Queensland dengan 30 tahun pengalaman Michael Reinecke melaporkan kehilangan dana hampir 40 juta bath Thailand (US$ 1,2 juta atau setara Rp 20 miliar) dalam sebuah penipuan investasi kripto di Phuket kepada kepolisian setempat di Mueang Udon Thani.
Melansir CryptoNewsFlash, Jumat (15/8/2025), Michael berkenalan lewat media sosial dengan ‘Alex’, yang mengaku pengusaha kripto berkebangsaan Jerman dan tinggal di Phuket. Mereka menjalin hubungan selama lebih dari satu tahun sebelum Alex menawarkan peluang investasi via pertemuan langsung, lengkap dengan dashboard dan grafik yang menjanjikan imbal hasil 5-10% per bulan.
Michael kemudian mentransfer tabungan hidupnya. Tak lama setelah itu, Alex mengklaim platform kriptonya tumbang karena kehilangan ponsel, dan dana tersebut hilang. Segera setelah itu, Alex menghilang tanpa jejak dan memutus komunikasi.
Michael didampingi istri Thainya Areerat Noonyat serta pengacaranya melaporkan kasus ini ke polisi.
Baca Juga
Kasus ini adalah contoh nyata dari “pig butchering scam”, di mana pelaku membangun hubungan emosional (sering kali romantis) untuk menumbuhkan kepercayaan, sebelum akhirnya meminta uang besar dan menghilang. Fenomena ini menyasar kelompok yang rentan seperti pensiunan dan ekspatriat.
Di paruh pertama 2025, dunia menyaksikan kehilangan hingga US$ 3,1 miliar akibat penipuan dan peretasan kripto, atau naik 88,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Ada beberapa metode pencegahan praktik kejahatan tersebut, antara lain verifikasi platform investasi secara independen (melibatkan regulator seperti Securities and Exchange Commission Thailand atau ASIC di Australia).
Baca Juga
Tokocrypto dan Binance Bantu Bareskrim Sita Rp 3 Miliar Hasil Penipuan Kripto
Waspada juga dengan imbal hasil yang terlalu tinggi dan konsisten, sebab pasar kripto tidak bisa menjamin return bulanan tetap. Gunakan dompet hardware (seperti Ledger dan Trezor) dan aktifkan autentikasi dua faktor (2FA). Lalu, segera laporkan penipuan ke pihak berwenang dengan dokumentasi lengkap.
Menutu laporan teranyar, pelaku yang telah ditangkap pada 1 Agustus 2025 setelah mencoba kabur dan menolak tuduhan penipuan. Dalam sebuah pertemuan yang difilmkan, Michael dihadapkan langsung dengan tersangka.
Meskipun tersangka mengaku ditipu juga dan mengklaim kehilangan ponselnya, polisi mencurigai kebohongan karena dia tetap aktif di media sosial dan bahkan terus mencari korban lain. Tersangka kini menghadapi dakwaan penipuan serta pelanggaran data komputer. Michael mengatakan merasa lega dan akhirnya bisa tidur nyenyak lagi setelah mengetahui pelaku tertangkap.
Kisah ini menjadi pengingat pahit bahwa penipuan pun dapat menimpa orang yang sangat terlatih dalam menghadapi kejahatan, seperti polisi. Strategi manipulatif yang menggabungkan hubungan emosional dan teknologi canggih membuat skema ini sangat sulit dideteksi.

