Sejak Rencana Buyback Digulirkan, Saham MTEL Terus Beranjak Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel berhasil mencatatkan penguatan harga mengesankan, dibandingkan emiten menara telekomunikasi lainnya dalam lima hari terakhir. Data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/8/2025), mengungkap kenaikan 2,40% saham MTEL menjadi Rp 640.
Bandingkan dengan dua saham emiten infrastruktur telekomunikasi lainnya, seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) turun 0,52% menjadi Rp 1.925 dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menguat 4,03% menjadi Rp 645. Jika data pergerakan harga saham ditarik lebih jauh ke belakang, saham MTEL telah melesat 13,27% dalam sebulan terakhir dan sebanyak 6,61% dalam sepekan terakhir.
Meski saham MTEL mencatatkan kenaikan harga pesat dalam lima hari terakhir, peluang penguatan saham anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini masih terbuka lebar. Berdasarkan data terungkap bahwa 25 dari 31 analis merekomendasikan beli saham MTEL dengan rata-rata target harga Rp 734. Target tersebut jauh di atas harga saham MTEL saat ini level Rp 640.
Baca Juga
Isu Merger Menyeruak di Tengah Rencana Buyback MTEL, Simak Target Harganya
Sinyal penguatan harga saham ini muncul semenjak perseroan mengagendakan pembelian kembali saham (buyback) hingga maksimal 4,12% dari total saham beredar. Alokasi dana yang disiapkan untuk aksi korporasi ini mencapai Rp1 triliun. Di saat bersamaan, rumors terkait rencana merger antara MTEL dan TBIG bergulir kencang dan ramai dipergunjingkan para pelaku pasar.
Kombinasi antara buyback dan rumors merger dengan TBIG membuat harga saham MTEL melesat. Pelaku pasar mengapresiasi dan banyak bertaruh bahwa merger merupakan keniscayaan sebagai respon logis maraknya penggabungan bisnis di industri operator telekomunikasi. “Setelah ISAT dengan Tri, lalu EXCL dan FREN yang merger. Industri telko (MNO) nya saja terkonsolidasi, masa sih industri penunjangnya seperti tower dan fiber tidak ikutan. Konsolidasi di industri menara dan fiber hanya soal waktu, arahnya akan kesana,” kata seorang analis yang tidak ingin disebutkan identitas dan sekuritasnya.
Target harga tertinggi saham MTEL diberikan broker Sinarmas Sekuritas dengan target harga Rp 860. Selanjutnya OUB Kay Hian merekomendasikan beli saham MTEL dengan target harga Rp 820. Begitu juga BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp 800.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi dan Erindra menyebutkan bahwa realisasi kinerja keuangan MTEL sepanjang semester I-2025 sesuai dengan perkiraan. Perolehan laba bersih senilai Rp 1,09 triliun setara dengan 52% dari target BRI Danareksa Sekuritas dan merefleksikan 50% dari konsensus analis. Kinerja yang kuat tersebut didukung atas stabilnya kinerja sektor penyewaan menara telekomunikasi dan fiber optik. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan beli saham MTEL dengan target harga Rp 800.
Baca Juga
Pendapatan dan Laba Mitratel (MTEL) Naik di Semester I-2025, Fokus Fiberisasi dan Inovasi Digital
Begitu juga dengan analis MNC Sekuritas Christian Sitorus menyebutkan bahwa berlanjutnya ekspansi infrastruktur dan disiplin biaya menjadikan saham Mitratel (MTEL) makin menarik. Perseroan juga akan diuntungkan tren peningkatan biaya sewa menara telekomunikasi dan jaringan fiber sejalan dengan berlanjutnya ekspansi jaringan operator telekomunikasi.
Hal ini mendorong MNC Sekuritas dalam riset terbarunya mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp Rp780. Target tersebut mempertimbangkan peluang kenaikan pendapatan dari ekspansi jaringan fiber dan berlanjutnya perluasan jaringan oleh operator telekomunikasi.
Jelang Buyback
Penguatan harga saham tersebut juga didukung rencana pembelian kembali (buy back) saham dengan alokasi dana Rp 1 triliun. Usulan buyback akan dimintakan persetujuan pada RUPSLB yang digelar pada 26 Agustus ini. Sejak rencaba buyback ini diumumkan, harga saham MTEL telah berhasil menguat sebanyak 7,5% menjadi Rp 645. Kenaikan harga saham MTEL makin kuat setelah diumumkan rencana pembelian kembali (buy back) saham dengan alokasi Rp 1 triliun. Usulan buyback akan dimintakan persetujuan pada RUPSLB Agustus mendatang.
Baca Juga
Sedangkan berdasarkan data kinerja keuangan hingga semester I-2025, Mitratel (MTEL) berhasil mempertahankan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, meski MTEL tengah menghadapi konsolidasi industri seluler. Pendapatan mencapai Rp 4,59 triliun, naik 3,3% dari periode yang sama tahun lalu. Pendorong utama berasal dari pertumbuhan tenant organik, ekspansi layanan fiberisasi, serta kontribusi bisnis nontower.
Laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 1,09 triliun atau naik sebanyak 2,9% secara tahunan (YoY). Sementara itu, EBITDA mencapai Rp 3,86 triliun dengan margin EBITDA yang meningkat, mencerminkan efisiensi operasional yang terus membaik.

