HSBC Sebut Saham Indonesia Masih Menarik, Kenaikan Didukung Dana Domestik dan Sektor Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan setelah sempat tertinggal di awal tahun. Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research Herald van der Linde mengungkapkan, tren pemulihan di pasar modal Tanah Air dalam dua bulan terakhir menunjukkan sinyal positif, terutama ditopang oleh investor domestik dan saham di sektor energi.
“Indonesia sempat menjadi salah satu pasar dengan kinerja terburuk di awal tahun. Tapi sejak April, dan lebih tajam lagi setelah akhir Juni, kami melihat perubahan arah yang cukup signifikan,” ujarnya, dalam Media Briefing HSBC: Indonesia Economy Outlook H2-2025, secara virtual, Jumat (8/8/2025).
Ia menjelaskan, di awal tahun kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dan dinamika politik sempat menekan pasar. Sempat ada kebingungan sola arah kebijakan dan dampak restrukturisasi sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Danantara.
“Selain itu, minat investor sempat tertuju ke pasar lain, seperti China,” kata Herald.
Namun, kata Herald, kebangkitan pasar saham nasional belakangan ini banyak ditopang saham mid cap, beberapa emiten baru, dan perusahaan energi seperti DCi, yang merupakan pemain data center.
Baca Juga
Pengamat Pasar Modal: Jangan Paksa IPO Demi Target, Bisa Rugikan Investor
“Uniknya, pemulihan ini bukan didorong investor asing, tapi oleh investor lokal. Dalam dua bulan terakhir, investor ritel menyumbang sekitar 50% transaksi, mencerminkan kekuatan pasar domestik,” ucapnya.
Menurutnya, saat ini investor asing masih wait and see, namun mulai menunjukkan ketertarikan kembali seiring perbaikan angka pertumbuhan ekonomi nasional. Di lain sisi, ia juga menyoroti pentingnya penambahan jumlah perusahaan terbuka untuk memperdalam pasar modal Indonesia.
”Sudah waktunya Indonesia memiliki lebih banyak emiten besar. Di India, pertumbuhan pasar saham sangat didorong oleh IPO (initial public offering) yang masif dan partisipasi dana pensiun serta reksa dana ritel. Indonesia sedang menuju ke arah itu, tapi masih di tahap awal,” ujar Herald.
Selain itu, lanjut dia, Indonesia juga perlu bersiap menghadapi kompetensi dan negara tetangga seperti Vietnam yang berpotensi naik kelas menjadi pasar emerging market, serta Malaysia dan Singapura yang agresif mengundang perusahaan untuk IPO.
Herald menyarankan untuk mulai melirik saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini tertinggal. “Bank dan saham-saham konsumer terpilih adalah sektor yang menurut kami patut diperhatikan saat ini,” katanya.

