Meski Laba Sektor Telekomunikasi Turun Tajam, Valuasi Saham TLKM, ISAT, dan EXCL masih Menarik!
JAKARTA, investortrust.id – Laporan kinerja emiten telekomunikasi sepanjang semester I-2025 mencerminkan tekanan profitabilitas, seiring meningkatnya biaya operasional dan perang tarif antaroperator. Laba bersih sektor saham ini mengalami penurunan drastic mencapai 22,14%.
Berdasarkan data BEI, total pendapatan tiga emiten besar yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencapai Rp 119,2 triliun, turun tipis 0,92% dibanding periode sama tahun lalu. Namun, yang cukup mengkhawatirkan adalah laba bersih sektor yang anjlok signifikan sebesar 22,14% menjadi Rp 12,1 triliun.
Jika rinci, Telkom mencatat penurunan pendapatan 3,04% menjadi Rp 73 triliun dengan penurunan laba bersih sebanyak 6,68% ke Rp 10,9 triliun. Indosat huga tertekan, pendapatan turun 3,09% menjadi Rp 27,1 triliun dan laba bersih menyusut 14,59% ke Rp 2,3 triliun.
Baca Juga
Saham XLSmart (EXCL) Jatuh Usai Umumkan Rugi Bersih Signifikan di Semester I
Sementara itu, XL Axiata mencatat pendapatannya melonjak 11,98% menjadi Rp 19 triliun. Sayangnya perseroan justru berbalik cetak rugi bersih Rp 1,2 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,04 triliun.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengungkap bahwa penyebab utama pelemahan ini adalah ketatnya persaingan tarif dan paket data yang memicu penurunan margin. Di sisi lain, biaya operasional dan belanja modal untuk pengembangan jaringan 5G serta infrastruktur digital tetap tinggi.
Grafik Saham Ytd
“Kondisi makro juga turut memengaruhi, di mana konsumsi data memang tumbuh, tetapi monetisasi belum optimal karena tekanan harga. Bagi XL misalnya, agresif dalam ekspansi jaringan justru belum langsung diimbangi dengan profitabilitas. Faktor lain adalah penurunan ARPU (average revenue per user) akibat perang harga yang masih berlanjut,” jelas Hendra kepada investortrust.id Rabu, (27/8/2025)
Meski kinerja di paruh pertama 2025 melemah, Hendra mengatakan, tidak serta-merta menandakan sektor telekomunikasi memasuki sunset industri. Justru, sektor ini masih akan menjadi tulang punggung ekonomi digital Indonesia. “Permintaan data diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan e-commerce, layanan streaming, cloud computing, hingga transformasi digital UMKM dan korporasi,” ungkap diaa.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Diprediksi Genjot Pendapatan Semester II Lewat Bisnis B2B dan 'Data Center'
Ia menyoroti berbagai tantangan yang utama adalah bagaimana operator bisa menyeimbangkan investasi jaringan dan monetisasi layanan digital, sehingga tidak hanya bergantung pada bisnis legacy voice dan SMS. Menurutnya prospek bisnis ke depan relatif positif, terutama apabila operator mampu untuk mengembangkan layanan digital baru, kolaborasi dengan ekosistem fintech, dan monetisasi big data.
Selain itu, konsolidasi industri berpotensi menekan kompetisi tarif sehingga dapat memperbaiki margin. “Investor juga masih menilai sektor telekomunikasi sebagai sektor defensif, meski pertumbuhannya tidak secepat sektor teknologi murni,” katanya.
Valuasi Saham
Sedangkan dari sisi valuasi, Hendra menilai saham TLKM masih terlihat menarik dengan PE 14,3x lebih rendah dari rata-rata industri (14,9x) serta ROE 17,3% jauh di atas industri (7,9%), meski PBV 2,3x relatif premium. ISAT juga punya valuasi cukup menarik dengan PE 14,2x dan EV/EBITDA 5,0x di bawah industri, serta ROE 13,6% yang solid.
Baca Juga
Indosat (ISAT) Gaet Google Cloud Luncurkan Fitur Pencarian AI
Sementara EXCL masih menghadapi tantangan karena mencatat rugi bersih, tercermin dari PE negatif (20,9x) dan ROE 1,2%. Namun, dari sisi PBV yang 1,5x, EXCL justru tergolong undervalued dibanding industri.
Secara teknikal, Hendra memproyeksikan saham telekomunikasi berpotensi rebound. TLKM direkomendasikan buy on weakness di Rp 3.050–3.070 dengan target Rp 3.500. ISAT bisa menjadi pilihan spec buy dengan target Rp 2.380. Sedangkan EXCL direkomendasikan buy on weakness di Rp 2.660–2.680 dengan target Rp 3.000.

