18 Proyek Hilirisasi Tambang & Energi Diserahkan ke Danantara, Emiten Swasta dan BUMN Ini Diuntungkan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah resmi mendorong percepatan transformasi industri tambang dan energi nasional melalui penyerahan pra-studi kelayakan atas 18 proyek hilirisasi strategis senilai total Rp618,13 triliun kepada Badan Pengelola Investasi Danantara, pada 22 Juli 2025.
Sebanyak 12 proyek prioritas berfokus langsung pada sektor tambang dan energi, yang mencakup pembangunan smelter nikel dan bauksit, pabrik DME, kilang batubara, katoda tembaga, hingga modul surya.
Baca Juga
Bahlil Serahkan Dokumen Pra-Studi Kelayakan 18 Proyek Hilirisasi, Total Investasi Rp 618 Triliun
Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, emiten-emiten BUMN seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan Inalum berpeluang besar mendapatkan prioritas pendanaan maupun konsesi proyek dari Danantara.
“Danantara akan memfasilitasi pembiayaan dalam bentuk ekuitas, sindikasi, atau obligasi, terbuka bagi BUMN maupun swasta. Emiten BUMN sangat diuntungkan karena akses dan dukungan yang kuat,” jelas Liza dalam risetnya, Kamis (24/7/2025).
Selain BUMN, emiten swasta seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga dinilai memiliki potensi besar, terutama jika memiliki cadangan memadai, membangun fasilitas pengolahan, atau menjalin kemitraan strategis dengan BUMN maupun investor asing.
Baca Juga
Bahlil Beri Bocoran Investasi Rp 100 Triliun Masuk November untuk Proyek Hilirisasi
Liza menyoroti bahwa MDKA dan AMMN unggul di hilirisasi tembaga, HRUM dan NCKL kuat di sektor nikel, dan DSSA menjajaki peluang dari portofolio energi terbarukan. Bila proyek-proyek ini memasuki tahap operasional dalam 3–5 tahun ke depan, emiten-emiten tersebut berpeluang meraih lonjakan pendapatan yang signifikan.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan proyek bergantung pada realisasi belanja modal (capex), efisiensi operasional, dan kemampuan mencapai skala produksi optimal.
Risiko Investasi
Liza menggarisbawahi bahwa investasi hilirisasi tetap menyimpan risiko tinggi, terutama karena kebutuhan pendanaan awal untuk smelter, pabrik DME, atau proyek energi surya terintegrasi dapat mencapai miliaran dolar AS. Tantangan lainnya datang dari sisi teknologi, infrastruktur pendukung yang terbatas, serta risiko pembengkakan biaya konstruksi.
Dari sisi pasar, risiko oversupply pada produk seperti cathode, aluminium, hingga slab dapat menekan harga jual. Oleh karena itu, emiten perlu mengamankan kontrak penyerapan (offtaker) dan memiliki strategi pemasaran jangka panjang.
Baca Juga
Entitas Medco Energi (MEDC) Raih Pinjaman Maksimal Rp 8,14 Triliun
Selain aspek keuangan dan pasar, proyek-proyek ini juga dihadapkan pada tantangan lingkungan, perizinan, dan sosial, yang kerap menjadi hambatan utama dalam penyelesaian proyek skala besar.
“Emiten BUMN lebih terlindungi karena akses pembiayaan Danantara dan dukungan politik. Namun, perusahaan swasta dengan mitra strategis juga sangat menjanjikan, terutama karena tata kelola mereka cenderung lebih transparan dan investor friendly,” jelas Liza.
Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan proyek, mulai dari laporan capex, progres studi kelayakan, hingga struktur kemitraan dengan Danantara sebagai indikator fundamental ke depan.

