Gorontalo Minerals Menjadi Mesin Pertumbuhan Bumi Resources (BRMS) ke Depan, Bagaimana Sahamnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyimpan potensi cadangan tembaga jumbo dari tambang yang dikendalikannya setara dengan 80% tambang Gorontalo Minerlas. Total cadangan tambang ini diperkirakan mencapai 1,2 miliar pon dan sumber daya sebanyak 2,6 miliar pon. Angka tersebut setara dengan potensi pendapatan bernilai US$ 19 miliar.
Gorontalo Mineral, aset utama kedua BRMS, akan memimpin fase pertumbuhan berikutnya. Berdasarkan hasil evluasi bahwa tambang ini mengindikasikan kebaradaan endapan profiri besar di bawah tanah yang tak kalah besarnya dengan tambang tembaga dan emas milik PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) di tambang Batu Hijau dan PT Freeport Indonesia di tambang Grasberg.
Baca Juga
Target Harga Tinggi, Bumi Resources (BRMS) Siap Gandakan Produksi Emas hingga Lonjakan Laba Ini
Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan mengatakan, BRMS akan mengalokasikan dana senilai US$ 100 juta untuk pengemboran ekstensi di lokasi tambang Gorontalo Minerals dengan hargapan bisa mengungkap salah satu cadangan porfiri kelas dunia. Endapan porfiri umumnya memiliki karakteristik paling menguntungkan di antara semua jenis endapan bijih, karena memiliki ukuran bijih yang besar dan kadar yang baik. Artinya, mengandung sumber daya mineral yang besar dengan biaya rendah produksi relative lebih murah.
Sumber: Sucor Sekuritas/Diolah
Dalam beberapa kasus, seperti di Batu Hijau dan Grasberg, hasil sampingan berupa emas membantu menurunkan biaya secara drastis hingga biaya keseluruhan bisa menjadi negatif. Sebagai contoh, Gorontalo Minerals memiliki estimasi 3,8 juta ons emas yang dapat menghasilkan sekitar US$ 6,8 miliar terhadap total EBITDA sepanjang umur tambang tersebut dengan asumsi biaya tunai sebesar US$ 1.200 per ons.
Saat ini, BRMS sedang membangun fasilitas heap leach berkapasitas 1.000 ton per hari (tpd) di tambang Gorontalo Mineral atau setara dengan 20% dari kapasitas pemrosesan saat ini dengan target pengoperasian pada 2026. Kapasitas ini akan ditingkatkan secara bertahap menjadi 2.000 tpd pada 2028. Proyek ini memiliki total cadangan sebesar 105,4 juta ton (Mt) dengan kadar rata-rata 0,33 gram/ton emas dan 0,7% tembaga. “Kami memperkirakan Gorontalo Mineral akan memproduksi 1.600 ons emas pada 2026 dan diharapkan melesat menjadi 14.000 ons pada 2028,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Potensi Cuan Saham Bumi Minerals (BRMS) bisa 51%, Intip Analisa Berikut
Sedangkan Citra Palu Mineral (CPM), aset utama BRMS, diperkirakan cetak lonjakan produksi tiga kali lipat, dari 65 ribu ons pada 2024 menjadi 183 ribu ons pada 2029. Pertumbuhan agresif ini akan didorong peningkatan produksi dari tambang bawah tanah River Reef dengan kadar bijih tinggi rata-rata 4,3 gram/ton, meningkat signifikan dari bijih open-pit sebanyak 1,6 gram/ton.
“Lonjakan produksi ini tak membutuhkan ekspansi pabrik, karena fasilitas yang ada sudah dirancang untuk kapasitas besar. Kami memperkirakan kadar batas (cut-off grade) konservatif sebanyak 3,5 gram/ton pada 2029,” tulisnya.
Sumber: Sucor Sekuritas/diolah
Pengembangan tambang bawah tanah ini membutuhkan investasi sekitar US$ 240 juta dalam lima tahun. Angka tersebut masih tergolong wajar, mengingat posisi pendanaan yang kuat dan arus kas yang stabil dari BRMS.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BRMS dengan target harga Rp 750 per saham. Target harga ini didukung cadangan emas besar yang belum tergarap sepenuhnya, rencana ekspansi yang sudah sepenuhnya dibiayai, dan profil pertumbuhan produksi emas yang paling agresif di Indonesia. “Dengan cadangan sebesar 5 juta ons emas (5.0 Moz), BRMS termasuk salah satu penambang emas terbesar di Indonesia, serta berada pada posisi yang tepat untuk mengambil keuntungan dari siklus bullish emas global saat ini,” tulisnya.

