IHSG Ditutup Lanjutkan Pelemahan Hari Ini, Nilai Transaksi Saham Ikut Anjlok
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (3/7/2025), kembali ditutup melemah tipis 12,86 poin (0,19%) menjadi 6.865. Perdagangan saham juga diikuti dengan penurunan nilai transaksi menjadi Rp 6,35 triliun.
Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan sejumlah sektor saham, seperti sektor konsumer non primer turun 0,81%, sektor material dasar turun 0,26%, sektor konsumer primer melemah 0,44%, sektor infrastruktur 1,34%, dan sektor material dasar 0,26%. Sebaliknya kenaikan melanda saham sektor energi, industry, keuangan, property, dan teknologi.
Baca Juga
DPR Ingatkan OJK, Antisipasi Gagal Bayar Koperasi Merah Putih
Di tengah penguatan tersebut, tiga saham berikut catatkan penguatan hingga auto reject atas (ARA), seperti saham PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) sebanyak 34,18% menjadi Rp 212, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) naik 24,46% menjadi Rp 346, dan PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) menguat 24,64% menjadi Rp 860. Penguatan juga melanda saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sebanyak 16,30% menjadi Rp 314, dan PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) naik 12,06% menjadi Rp 158.
Kondisi berbeda dicatatkan lima saham berikut dengan penurunan dalam, yaitu saham INPS jatuh 14,61% menjadi Rp 152, IOTF melemah 14,42% menjadi Rp 89, BRNA turun 10,29% menjadi Rp 610, BMAS turun 10% menjadi Rp 540, dan PCAK turun 8,53% menjadi Rp 8,53.
Baca Juga
Mayora Indah (MYOR) Shares Poised for Growth on Innovation and Export Momentum
Kemarin, IHSG ditutup turun tipis 3,19 poin (0,05%) menjadi 6.878 disertai dengan penurunan drastis nilai transaksi. Penjualan bersih (net sell) saham oleh pemodal asing turun signifikan menjadi Rp 31,55 miliar, terbanyak BBCA Rp 106,39 miliar, BRPT Rp 25,09 miliar, dan ADRO Rp 19,22 miliar.
Penurunan tersebut dipicu atas pelemahan sejumlah sektor saham, seperti sektor keuangan 0,31%, sektor teknologi 0,16%, dan sektor industry. Sebaliknya penguatan melanda saham sektor material dasar, konsumer non primer, dan transportasi lebih dari 1%.

