BRI Danareksa Sekuritas: IHSG Optimistis Capai 7.300 Tahun 2025 dengan Unggulan Dua Sektor Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat menembus level 7.300 hingga akhir tahun 2025. Proyeksi ini disampaikan oleh Head of Equity Research BRIDS, Erindra Krisnawan, dalam paparan terbaru di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (3/7/2025).
Menurut Erindra, sentimen pasar saham Indonesia saat ini masih dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi global dan domestik. “Kekhawatiran investor, baik dalam maupun luar negeri, terutama mengarah pada data pertumbuhan industri yang menunjukkan tren pelemahan. Oleh karena itu, dalam waktu dekat IHSG kemungkinan akan bergerak sideways atau cenderung wait and see,” ujarnya.
Baca Juga
Margin Diprediksi Pulih, Begini Target Harga Saham Merdeka Battery (MBMA)
Meski demikian, Erindra menilai semester kedua 2025 akan menjadi titik balik positif bagi pergerakan IHSG, seiring mulai terasa dampak dari stimulus pemerintah. “Jika data industri mulai membaik, meskipun belum sepenuhnya pulih, tetapi tekanan perlahan mereda, maka ini akan menjadi katalis positif bagi pasar saham,” katanya.
Dua faktor utama yang akan mendorong penguatan IHSG menuju 7.300, yaitu akselerasi belanja pemerintah dan penguatan nilai tukar rupiah. Kedua hal ini dinilai akan memberikan efek positif terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap nilai tukar dan daya beli masyarakat.
Baca Juga
Target Harga Tinggi, Bumi Resources (BRMS) Siap Gandakan Produksi Emas hingga Lonjakan Laba Ini
Erindra menyoroti sektor konsumer sebagai salah satu saham unggulan 2025, mengingat valuasinya yang saat ini sudah relatif murah. “Sektor konsumer sangat sensitif terhadap nilai tukar rupiah. Banyak bahan baku mereka berbasis dolar. Jadi, jika rupiah menguat, maka biaya produksi lebih rendah dan margin keuntungan bisa meningkat,” jelasnya.
Selain konsumer, saham sektor telekomunikasi juga diprediksi menarik minat investor, terutama karena adanya perbaikan harga paket data. “Setelah periode perang harga, kini mulai terjadi stabilisasi dan kenaikan harga data. Ini bisa menjadi katalis positif bagi saham-saham telko,” tambahnya.

