Prospek Industri Semen Masih Tertekan, Mirae Asset Pilih INTP Dibanding SMGR
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Industri semen nasional diproyeksikan masih menghadapi tekanan dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini disampaikan Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam riset terbarunya setelah mempertimbangkan normalisasi belanja infrastruktur, lemahnya daya beli masyarakat, serta persaingan harga yang makin ketat.
Analis Mirae Asset, Andreas Saragih, mencatat bahwa konsumsi semen domestik Mei 2025 memang naik signifikan secara bulanan sebesar 32,3%. Namun secara tahunan justru turun 4,6% menjadi 5,18 juta ton. “Kenaikan ini lebih disebabkan normalisasi proyek IKN, namun daya beli masyarakat masih jadi tantangan,” ujarnya dalam riset, Senin (30/6/2025).
Baca Juga
RUPS Semen Indonesia (SMGR) Tetapkan Rasio Dividen 90,13% hingga Tunjuk Dirut Indrieffouny Indra
Baik pasar semen kantong maupun semen curah mengalami kontraksi tahunan masing-masing 4,1% dan 5,8%. Meski begitu, secara bulanan keduanya tumbuh cukup tinggi: masing-masing naik 26% dan 51,2%, mencerminkan pemulihan permintaan dari proyek konstruksi. Secara kumulatif, konsumsi semen nasional selama Januari–Mei 2025 tercatat 22,77 juta ton, menurun 2,1% secara tahunan.
Pangsa pasar PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun menjadi 48% pada Mei 2025, dengan volume penjualan 2,49 juta ton atau turun 9,6% yoy, meski naik 29,1% dari bulan sebelumnya. Penurunan terutama berasal dari kinerja semen curah yang lemah, serta pertumbuhan semen kantong yang tertinggal dari rata-rata industri.
Secara total, volume penjualan grup SMGR hanya turun tipis 0,3% yoy menjadi 14,46 juta ton, ditopang pertumbuhan regional sebesar 19% menjadi 3,8 juta ton atau 26,6% dari total volume. Sementara itu, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berhasil memulihkan pangsa pasarnya menjadi 29,6%. Volume penjualan mencapai 1,53 juta ton, turun 3,9% yoy namun naik signifikan 38,9% secara bulanan. Pertumbuhan banyak didorong dari wilayah luar Jawa dengan peningkatan pangsa pasar menjadi 23,3%.
Rekomendasi Saham
Mirae mencatat bahwa baik SMGR maupun INTP masih tertinggal dari industri dalam penjualan semen curah. Peningkatan proporsi penjualan semen curah yang memiliki margin rendah, ditambah tekanan dari merek-merek fighting brands, berpotensi menekan harga jual rata-rata (ASP) dan margin profitabilitas sektor secara keseluruhan.
Baca Juga
RUPST Indocement (INTP) Tunjuk Eks Kepala Bappenas Suharso Monoarfa Sebagai Komisaris
Mirae Asset mempertahankan rating netral untuk sektor semen. Rekomendasi saham SMGR adalah hold dengan target harga Rp 2.800. Sementara untuk INTP juga hold, namun lebih dipilih karena posisi pasar yang lebih kuat serta potensi sinergi dari akuisisi Semen Grobogan, dengan target harga Rp 5.600.
“Risiko positif bisa muncul dari lonjakan permintaan di atas ekspektasi, kenaikan ASP, dan kontribusi agresif dari produk curah serta merek lokal,” pungkas riset Mirae Asset.

