Pasar Modal Berpotensi Rebound di Awal Semester II, IHSG bakal Tembus 7.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Memasuki semester kedua 2025, pasar modal Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat terkoreksi tipis 0,14% secara mingguan dan ditutup di level 6.897 pada pekan keempat Juni. Meski melemah, tren teknikal mengindikasikan potensi penguatan lanjutan.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menyebutkan bawah IHSG berhasil memantul dari support dinamis Moving Average (MA) 100, level krusial bagi pelaku institusi besar. Sementara indikator Stochastic menunjukkan kondisi overbought, menandakan peluang penguatan dalam jangka pendek.
Baca Juga
Harga Bitcoin Melonjak Kembali di Atas US$ 108.000, Ini Proyeksinya di Awal Bulan Juli
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak di rentang support 6.745 dan resistance 7.002 pada awal Juli. Jika didukung volume dan sentimen makro yang kondusif, peluang menembus ke atas sangat terbuka,” kata Hendra kepada investortrust.id, Minggu (29/6/2025).
Potensi penguatan IHSG juga didorong faktor seasonality. Berdasarkan data historis sembilan tahun terakhir, bulan Juli konsisten mencatat penguatan IHSG dengan probabilitas 100% dan rata-rata kenaikan 2,31%. Hal ini sering dikaitkan dengan laporan keuangan semester I serta ekspektasi dividen interim, terutama dari sektor perbankan.
Selain itu, meredanya konflik Iran-Israel yang telah memasuki fase gencatan senjata dua pekan terakhir memberi dampak positif terhadap sentimen investor global terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca Juga
Groundbreaking Ekosistem Baterai EV Resmi Dimulai, Indonesia Bisa Hemat Impor BBM hingga 300.000 KL
Dari eksternal, ekonomi AS sempat terkontraksi 0,5% di kuartal I, namun pesanan manufaktur melonjak 16,4% di Mei 2025, tertinggi sejak Juli 2014. Sementara surplus neraca berjalan China sebesar US$ 165,4 miliar di kuartal I menunjukkan kuatnya permintaan global—berdampak positif pada ekspor Indonesia, khususnya komoditas.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati data PMI Manufaktur, neraca perdagangan, inflasi Juni, dan cadangan devisa. Jika data inflasi tetap stabil dan neraca kembali surplus, maka ruang untuk mempertahankan suku bunga BI tetap terbuka, menguntungkan sektor properti, perbankan, dan konsumsi.
Saham Pilihan
Hendra juga menyoroti rotasi sektoral yang mulai terjadi. Sektor energi terkoreksi 4,1% dan menjadi pemberat terbesar IHSG di akhir Juni. Diikuti material dasar, properti, industri, dan teknologi.
Baca Juga
Diwarnai Drama Politik, RUU Pemotongan Pajak dan Belanja Trump Lolos Rintangan Pertama di Senat AS
Sebaliknya, sektor defensif seperti kesehatan (naik 1,4%), keuangan (1,2%), dan barang konsumsi non-siklikal (0,4%) menguat, mengindikasikan rotasi investor ke sektor dengan fundamental kuat dan sensitivitas rendah terhadap gejolak global.
Hendra merekomendasikan beberapa saham unggulan awal semester II, yaitu BBRI dengan target harga Rp 4.130 didukung eksposur besar ke UMKM dan potensi dividen interim. MBMA dengan target harga Rp 480, rebound dari MA 100 dengan akumulasi asing Rp 30,9 miliar dalam dua hari terakhir Juni. DKFT dengan target harga Rp 500, volume meningkat, sinyal bullish kuat, dan akumulasi asing Rp 34,7 miliar sebulan terakhir.
“Gelombang IPO awal semester II yang melibatkan emiten, meski masih kecil skalanya, tetap menjadi sinyal kepercayaan pasar. Ini membuka peluang diversifikasi bagi investor ritel,” tutup Hendra.

