Rata-rata Transaksi Harian Bursa Rp 12,87 Triliun, Tumbuh 19,72%
JAKARTA, investortrust.id - PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2024, dengan Rata-Rata Nilai Transaksi Harian Bursa (RNTH) mencapai Rp 12,87 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 19,72% dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama KPEI, Iding Pardi, mengungkapkan nilai penyelesaian transaksi pada tahun 2024 mencapai Rp 4,24 triliun, dengan tingkat efisiensi transaksi yang impresif sebesar 57,30%.
Tak hanya itu, layanan pendukung seperti Pinjam Meminjam Efek juga menunjukkan aktivitas yang positif, dengan nilai transaksi mencapai Rp 54,11 miliar. Sementara itu, transaksi Triparty Repo tercatat sebesar Rp 531,32 miliar sepanjang tahun berjalan.
"Sebagai bagian dari fungsi manajemen risiko, per akhir tahun 2024, KPEI mengelola total agunan senilai Rp 33,13 triliun, yang terdiri atas Rp 26,20 triliun agunan online dan Rp 6,92 triliun agunan offline," ujar Iding dalam keterangannya, Selasa, (24/6/2025).
Baca Juga
BEI Bidik Kenaikan Rata-Rata Transaksi Harian Jadi Rp 13,5 Triliun di 2025
Dari sisi penguatan cadangan, KPEI juga mencatat peningkatan Nilai Cadangan Jaminan, dari Rp 194,14 miliar pada 2023 menjadi Rp 199,44 miliar di 2024. Sementara total Dana Jaminan yang dikelola naik dari Rp 7,74 triliun menjadi Rp 8,52 triliun.
Pada segmen Pasar Uang dan Valuta Asing (PUVA), khususnya untuk produk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), nilai outstanding transaksi mencapai US$ 22 juta per akhir tahun. Total nilai nosional transaksi DNDF sepanjang 2024 mencapai US$ 382 juta, dengan posisi nett nosional sebesar US$ 322 juta.
"Dengan nilai tersebut, KPEI telah melakukan efisiensi netting sebesar 15,7%, yang diharapkan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah anggota dan transaksi PUVA," terang dia.
Hingga akhir 2024, anggota kliring PUVA tercatat sebanyak delapan bank. Dari sisi keuangan, pendapatan KPEI tahun 2024 mencapai Rp 697,12 miliar atau tumbuh 18,52% dibanding tahun sebelumnya, hal ini didorong oleh peningkatan RNTH.

