Transaksi Saham Toba Pulp (INRU) Dibuka Kembali, Bakal Lanjutkan Kenaikan?
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kembali perdagangan saham PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) di pasar reguler dan pasar tunai mulai sesi I perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (23/6/2025).
Manajemen BEI dalam keterangan resminya menyebutkan bahwa suspensi atas perdagangan saham INRU dibuka kembali mulai sesi I hari ini. Sebelumnya saham INRU dihentikan sementara (suspensi) sejak 10 Juni 2025, seiring dengan lompatan harga lebih dari 134,69% ke level Rp 920 dalam sebulan terakhir atau sebelum disuspensi.
Baca Juga
Investor Asal Hong Kong Akuisisi 92,42% Saham Toba Pulp (INRU), Bakal Tender Wajib Saham Publik?
Sebelumnya, Allied Hill Limited, perusahaan asal Hong Kong, mengakuisisi sebanyak 1,28 miliar (92,42%) saham Toba Pulp (INRU), sebanyak Rp 555,8 miliar. Nilai tersebut merefleksikan harga Rp 433 per saham dan penyelesaian transaksi melalui pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juni 2025.
Berdasarkan data harga akuisisi ini jauh di bawah harga penutupan saham INRU Rp 920 pada penutupan perdagangan BEI 5 Juni 2025 atau sebelum saham ini dikenakan suspend.
Direktur dan Cosec INRU Anwar Lawden dalam keterbukaan informasi di BEI, menyebutkan bahwa Allied Hill Ltd (AHL) merupakan perusahaan holding investasi yang terdaftar di Hong Kong. Everpo Investments Ltd bertindak sebagai pemegang 100% saham AHL dan Joseph Oetomo tercatat sebagai pemilik manfaat akhir perusahaan tersebut.
Joseph Oetomo merupakan Direktur Raja Garuda Mas (RGM), yaitu perusahaan berbasis sumber daya yang terintegrasi secara global, dengan bisnis di bidang kertas, minyak sawit, viscose, konstruksi dan energi, properti, dan manajemen aset. RGM sendiri merupakan perusahaan yang dididirikan dan dikendalikan Sukanto Tanoto.
Baca Juga
Allied Hill Ungkap Nilai Akuisisi 92,42% Saham Toba Pulp (INRU), Harga Jauh di Bawah Pasar
Usai menuntaskan akuisisi mayoritas saham, pengendali baru akan wajib melaksanakan penawaran tender wajib atas saham public. Namun demikian pemegang saham mayoritas belum mengungkapkan jadwal pelaksanaannya. Pengendali baru juga berkomitmen untuk menambah jumlah saham bereadar (free float) usai transaksi tersebut.
Hingga kuartal I-2025, emiten pulp kertas ini membukukan penurunan pendapatan dari US$ 19,16 juta menjadi US$ 17,01 juta. Penurunan tersebut berdampak terhadap pelemahan laba kotor dari US$ 3,31 juta menjadi US$ 2,95 juta. Sebaliknya rugi bersih naik dari US$ 2,81 juta menjadi US$ 3,63 juta.

