Sejam Perdagangan, IHSG Terjun 1,26% ke Level 6.883, Big Cap Jadi Penyeret
JAKARTA, ivestortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) intraday sesi I, Jumat (20/6/2025), telah anjlok lebih dari 85 poin (1,26%) menjadi 6.883. Pelemahan ini melanjutkan penurunan signifikan hampir 2% kemarin.
Penurunan dalam IHSG intraday ini dipicu pelemahan seluruh sektor saham. Hingga puku 10.00 WIB, saham sektor energi anjlok 1,34%, sektor material dasar 1,36%, sektor consumer primer 1,2%, sektor keuangan 1,2%, sektor property 1,75%, dan sektor infrastruktur 1,10%.
Baca Juga
Lanjutkan Pelemahan, IHSG Dibuka Anjlok 20 Poin Terseret Kejatuhan Mayoritas Sektor Saham
Sedangkan saham dengan penyumbang terbesar terhadap pelemahan indeks ini datang dari saham big cap, seperti BBCA, AMMN, BREN, DSSA, DCII, PANI, BBRI, BMRI, dan BBNI. Penurunan juga melanda saham
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id sebelumnya mengatakan, jika support kuat area MA50 6.935 ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan penurunan ke support berikutnya di 6.812. “Untuk jangka pendek, area 6.935 menjadi penentu arah pasar, dengan outlook mingguan yang masih rentan volatilitas," Hendra saat dihubungi investortrust.id Kamis, (19/6/2025).
Di tengah tekanan pasar, menurut Hendra, sektor energi dan komoditas justru menjadi oasis yang menyerap dana investor. Saham-saham berbasis sumber daya alam mendapat limpahan sentimen positif dari lonjakan harga minyak, gas, dan emas.
Baca Juga
Chandra Daya (CDIA) Ungkap 4 Pilar Bisnis jelang IPO Saham, Simak Keunggulan Bisnis Setiap Pilar
Kemarin, IHSG ditutup anjlok 139,15 poin (1,96%) ke level 6.968,64. Hal ini mencatatkan koreksi harian terdalam dalam sebulan terakhir dan kembali menembus di bawah level psikologis 7.000.
Aksi jual besar-besaran kemarin dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan kekhawatiran domestik yang saling menumpuk. Sementara dari sisi global, pasar diguncang oleh eskalasi konflik Iran-Israel, menyusul laporan serangan rudal Iran ke rumah sakit militer di Israel.
"Ketegangan geopolitik ini langsung berdampak pada melonjaknya harga minyak dan emas, serta memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi stagflasi dan disrupsi jalur distribusi energi internasional. Bursa-bursa Asia pun mengalami aksi koreksi serempak, dengan Hang Seng terkoreksi hampir 2%," kata Hendra.

