UBS Naikkan Peringkat Pasar Saham Indonesia Menjadi Overweight, Lima Indikator Ini Jadi Dasarnya
JAKARTA, investortrust.id – UBS Securites menaikkan peringkat pasar saham Indoensia dari neutral menjadi overweight. Kenaikan tersebut menggambarkan valuasi pasar saham Indonesia kini berada di tingkat mendekati titik terendah era Covid.
Selain Indonesia, UBS Securities merivisi naik peringkat pasar saham India dari underweight menjadi neutral. Demikian Equity Strategi yang diterbikan UBS Securities, Kamis (24/4/2025). Periset terdiri atas Sunil Tirumalai, Karen Hizon, dan Kruti Shah.
Baca Juga
Saham Bank Melesat Dipimpin BRIS dalam 3 Pekan, Ternyata Target Harga masih Tinggi
Tim riset UBS mengungkap lima dasar peningkatan peringkat prospek saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pertama, valuasi pasar saham Indonesia kini sudah terlihat menarik dibandingkan historisnya atau mendekati level terendahnya masa Covid-19 dan perbandingkan bursa saham negara-negara emerging market.
Kedua, UBS menyebutkan, ada peluang lembaga keuangan domestik untuk meningkatkan alokasi investasi di pasar saham, seperti BPJS Tenaga Kerja dan Danantara. “Kami memperkirakan arus masuk tambahan investasi milik negara di pasar ekuitas domestik sebesar US$ 8,3 miliar dalam tiga tahun ke depan,” tulis riset tersebut.
Berdasarkan perhitungan UBS bahwa kepemilikan saham oleh lembaga keuangan domestik di pasar saham telah turun dari posisi tertingginya 37% pada 2014 menjadi 14% pada 2023. Penurunan harga saham akan menjadi momentum bagi investor instusi untuk menambah kepemilikan sahamnya di BEI.
Baca Juga
Menperin: Pengembangan Industri EV Indonesia Tak Terganggu karena Mundurnya LG
Ketiga, menurut UBS, Indonesia adalah pasar dengan eksposur tinggi terhadap ekonomi domestik dan sangat minim terhadap pasar AS. Hal ini menjadikan pasar saham domestic menjadi defensif di tengah ketidakpastian global akibat peningkatan eskalasi perang dagang.
Keempat, tim analis UBS menunjukkan sentimen positif tertinggi dalam lima tahun terakhir terhadap saham-saham di Indonesia, menunjukkan keyakinan terhadap fundamental dan potensi pertumbuhan ke depan. “Kelima, meredanya ketidakpastian terkait Danantara,” tulisnya.
Pulih Lebi Cepat
Sedangkan berdasarkan data, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) catatkan penguatan lima hari beruntun. Kenaikan telah mencapai 259 poin (4,04%) menjadi 6.659,65 hingga terhitung sejak 17 April hingga penutupan sesi I, Kamis (24/4/2025).
Bahkan, IHSG telah berhasil catatkan penguatan hampir 2% terhitung sejak kebijakan tarif resiprokal Trum diluncurkan pada 2 April 2025. IHSG BEI satu-satunya pasar saham di kawasan Asia Tenggara yang sudah berhasil pulih.
Chief Economist PT Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai bahwa pasar saham Indonesia menunjukkan daya lenting yang luar biasa di tengah ketegangan global akibat babak baru perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Hal ini ditunjukkan pemulihan cepat IHSG dari sentimen negative perang dagang Trump.
Baca Juga
Bos BCA (BBCA) Beberkan Penyebab Sempat Melemahnya Saham Perbankan
“Pemulihan cepat pasar saham Indonesia mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas domestik, ketahanan permintaan lokal, serta optimisme terhadap arah kebijakan ekonomi yang pro-investasi,” ujarnya kepada Investortrust.id di Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Ke depan, dia mengatakan, pemerintah harus mempertahankan komunikasi yang baik kepada pasar keuangan, sehingga pasar bisa memiliki ekspektasi yang jelas tentang program-program pemerintah. Hal yang berikutnya harus dilakukan pemerintah adalah percepatan belanja pasca realokasi anggaran.

