Menperin: Pengembangan Industri EV Indonesia Tak Terganggu karena Mundurnya LG
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita angkat bicara terkait hengkangnya LG Energy Solution (LGES) pada sebagian proyek rantai pasok baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Ia menilai hal itu tidak mengganggu target perkembangan EV di Tanah Air.
Kemenperin menargetkan, pada 2030 mendatang, industri otomotif di dalam negeri dapat memproduksi 9 juta unit sepeda motor listrik roda dua dan roda tiga serta 600.000 unit mobil dan bus listrik. Target tersebut diharapkan berkontribusi pada pengurangan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 21,65 juta barel atau setara pengurangan emisi CO2 sebanyak 7,9 juta ton secara total.
“Ini tidak mengganggu dari target program pengembangan EV di Indonesia. Akselerasi pengembangan untuk ekosistem kendaraan listrik di Indonesia tetap berjalan sesuai perencanaan dan target, apalagi sudah ada yang berproduksi,” ucap Agus Gumiwang dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga
Bukan Hengkang, LG Diminta Pemerintah Mundur dari Proyek Baterai
Menperin Agus menyebutkan, mundurnya investasi LG akan digantikan mitra investasi baru dari perusahaan Tiongkok, yakni Huayou. Perusahaan yang berkantor pusat di Tongxiang Zhejiang ini bergerak dalam kegiatan penelitian, pengembangan, dan manufaktur material baterai lithium-ion energi serta material kobalt. Komponen tersebut biasanya digunakan untuk elektronik hingga kendaraan listrik. “Dalam sebuah konsorsium bisnis atau proyek skala besar, pergantian investor merupakan hal yang lazim terjadi,” terangnya.
Saat ini, sudah ada dua perusahaan yang memproduksi baterai motor listrik, yaitu PT Industri Ion Energisindo berkapasitas produksi 10.000 pcs baterai per tahun dan investasi Rp 18 miliar serta PT Energi Selalu Baru dengan kapasitas produksi 12.000 pcs baterai per tahun dan investasi sebesar Rp 15 miliar.
Sementara itu, terdapat dua industri baterai sel untuk mobil listrik, yaitu PT HLI Green Power, yang merupakan konsorsium antara Hyundai Grup dan LG sebagai produsen sel baterai, dengan kapasitas tahap pertama 10 GWh dengan total investasi US$ 1,1 miliar.
Industri sel baterai ini akan memasok 150.000 hingga 170.000 unit kendaraan bermotor listrik melalui PT Hyundai Energy Indonesia selaku industri baterai pack yang memiliki kapasitas produksi 120.000 pack baterai kendaraan bermotor listrik dengan investasi Rp 674 milliar.
Kedua, PT International Chemical Industry berkapasitas 100 MWh per tahun (setara dengan 9 juta sel), dengan target kapasitas produksi sebesar 256 MWh per tahun (setara dengan 25 juta sel).
Selain PT Hyundai Energy Indonesia, terdapat satu produsen baterai pack lain, yaitu PT Gotion Green Energy Solutions Indonesia yang memiliki total investasi lebih US$ 8,7 juta dengan kapasitas produksi 17.952 unit per tahun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala BKPM Rosan Roeslani sebelumnya menegaskan LG masih berinvestasi di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan menanggapi kabar konsorsium yang dipimpin LG mundur dari investasi sebesar Rp 130,7 triliun untuk pengembangan baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Rosan mengatakan, investasi yang ditanamkan LG ke Indonesia mencapai US$ 9,8 miliar untuk membangun ekosistem rantai pasok baterai kendaraan listrik, mulai pertambangan dan pengolahan nikel, katoda, anoda, baterai, cell pack, hingga daur ulang baterai.
Baca Juga
Bahlil Pastikan Proyek Baterai EV Rp 130 T Tetap Jalan, LG Digantikan Huayou
"Kalau boleh saya gambarkan sedikit, memang LG ini kan investasi totalnya US$ 9,8 miliar. Memang ini ada suatu investasi besar, ekosistem dari mining-nya sampai, ini kalau saya bilang dari mining, nickel made, precursor, cathode, anode, battery cell, cell pack, sampai recycle baterainya," kata Rosan dalam konferensi pers di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/4/2025).
Rosan memaparkan, investasi tersebut terbagi dalam empat tahapan. Rosan menegaskan, LG sudah menuntaskan proyek keempat dengan nilai investasi US$ 1,1 miliar. Dengan demikian, Rosan membantah isu yang menyebut LG hengkang dari Indonesia.
"Jadi memang berita yang kemarin mereka mundur itu bukan mundur semuanya, enggak. Mereka sudah melakukan dan sudah selesai di JV (joint venture) nomor 4 senilai US$ 1,1 miliar," katanya.

