Gelar Buy Back, Ternyata Segini Target Harga Saham Semen Indonesia (SMGR)
JAKARTA, investortrust.id – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) akan menggelar pembelian kembali (buy back) saham dalam kondisi pasar berfluktuasi secara signifikan. Total dana Rp 200 miliar disiapkan untuk pembelian saham kurun waktu 16 April hingga 23 Mei 2025.
Manajemen SMGR dalam penjelasan resminya menyebutkan bahwa pelaksanaan buy back saham ini diyakini tidak akan berdampak terhadap penurunan pendapatan, mengingat SMGR memiliki modal kerja dan arus kas memadai. Kegiatan usaha perseroan diperkirakan tidak terdapat dampak material atas pembiayaan buy back saham tersebut.
Baca Juga
Adaro Andalan (AADI) akan Buy Back Saham Rp 4 Triliun, Manajemen Ungkap Alasan Ini
Terkait pergerakan harga saham SMGR, data Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap bahwa penguatan pesat saham SMGR dalam tiga hari terakhir dari level Rp 2.140 menjadi Rp 2.500. Meski demikian, kinerja saham SMGR year to date (ytd) turun tajam dari Rp 3.290 menjadi Rp 2.500.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Sabela Nur Amalina dan Richard Jerry dalam riset terakhirnya justru merevisi naik rekomendasi saham SMGR dari hold menjadi beli, namun target harga dipangkas dari Rp 3.900 menjadi Rp 3.400.
“Rekomendasi beli tersebut menggambarkan bahwa saham SMGR sudah tertekan cukup dalam beberapa hari terakhir. Sedangkan pemangkasan target harga mempertimbangkan revisi turun proyeksi kinerja keuangan SMGR tahun ini,” tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.
Baca Juga
IHSG Bisa Lanjut Naik ke Level 6.500 Hari Ini, Tiga Saham Dipimpin TPIA Jadi Pilihan
BRI Danareksa Sekuritas memangkas turun target laba bersih perseroan tahun ini dari semula Rp 1,60 triliun menjadi Rp 1,23 triliun. Sebaliknya pendapatan direvisi naik tipis dari Rp 37,28 triliun menjadi Rp 37,27 triliun. Pemangkasan turun target laba sejalan dengan proyeksi penurunan margin keuntungan.
Tahun lalu, perseroan mencatatkan penurunan signifikan laba bersih dari Rp 2,17 triliun menajdi Rp 720 miliar. Begitu juga dengan pendapatan melemah sebanyak 6,4% dari Rp 38,65 triliun menajadi Rp 36,18 triliun. Penurunan dipengaruhi atas peningkatan beban yang berimbas terhadap penurunan margin keuntungan kotor dan bersih tahun lalu.

