Investor Ritel Domestik Tahan Kejatuhan IHSG Pasca-Pengumuman Tarif Trump
JAKARTA, investortrust.id – Investor ritel domestik kembali disorot sebagai ‘pahlawan’ yang menahan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pasca-pengumuman tarif dagang oleh Presiden AS Donald Trump.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, saat pasar modal dibuka pada 8 April 2025, usai libur lebaran, investor ritel domestik mencatatkan pembelian saham sebanyak Rp 3,9 triliun. Padahal investor asing justru mencetak total jual bersih (net sell) Rp 3,8 triliun.
Kala itu, nilai transaksi di BEI mencapai hampir Rp 21 triliun sehingga penjualan saham oleh investor asing, setara 15% total transaksi hari itu. Jumlah total transaksi di bursa pasca-pengumuman tarif Trump pun, terus membukukan peningkatan dari rata-rata jumlah transaksi yang sekitar Rp 12,53 triliun
“Jadi bisa dilihat bahwa ternyata kalau bicara likuiditas, penopang utama pada 8 April ketika hari pertama perdagangan setelah likuiditas itu adalah dari investor retail domestik,” ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dalam diskusi daring, bertema ‘Trump Trade War: Menyelamatkan Pasar Modal, Menyehatkan Ekonomi Indonesia’, Jumat (11/4/2025).
Baca Juga
Asing Lanjutkan Net Sell Saham Rp 214,36 Miliar, Meski IHSG Ditutup Naik
Sebagai pembanding, Iman menyebutkan bahwa peran investor institusi dalam menyerap saham dengan valuasi murah saat ini, masih lebih kecil dibandingkan ritel. Dia mencontohkan, realisasi program pembelian kembali (buyback) saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) saja masih di bawah Rp 1 triliun.
Sedangkan aksi jual (net sell) yang dilakukan investor domestik pada perdagangan Kamis (10/4/2025), Iman sebut sebagai momen investor ritel mengambil keuntungan (take profit) saat IHSG terapresiasi di kisaran 5%.
“Ini sebuah gambaran bahwa domestik kita cukup punya confidence untuk membeli saham-saham kita karena tadi, valuasi saham-saham kita yang blue chip sudah cukup murah dibandingkan di industri,” sambung Iman.
Ditambah lagi, jumlah investor di pasar modal meningkat 35.000 pada periode libur Lebaran 2025. Bursa pun menilai, penambahan jumlah investor menggambarkan kepercayaan diri investor domestik yang cukup besar untuk bertransaksi di BEI.
Sejak awal tahun, bursa mencatat, IHSG sudah turun sebanyak 11,67% yang menandakan bahwa pelemahan indeks sudah terjadi sejak Januari 2025 dengan berbagai sebab. Pada periode tersebut, investor asing telah keluar dari Pasar Modal Indonesia dengan membawa aset sekitar Rp 30 triliun.
Baca Juga
IHSG Sukses Ditutup Naik Tipis Jelang Akhir Pekan Ini Ditopang Sejumlah Saham Big Cap
Hal tersebut, menarik turun IHSG karena mayoritas saham yang dijual asing memiliki kapitalisasi pasar atau bobot yang berat pada indeks. Contohnya saham BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA yang harganya disebut sudah turun cukup dalam dibandingkan awal tahun.
Iman menjelaskan, ada tiga hal yang memengaruhi IHSG, yaitu faktor global, faktor domestik, dan fundamental dari perusahaan. Semua ini diramu menjadi persepsi investor yang menciptakan level kepercayaan untuk menaruh modal atau berinvestasi.
Guna menahan kejatuhan IHSG, bursa pun melakukan komunikasi aktif dengan publik, media, dan ekonom sebagai langkah jangka pendek. Komunikasi dilakukan untuk menyampaikan informasi tentang kondisi korporasi yang sahamnya tercatat di BEI.
“Kalau kita lihat sebenarnya bisa bandingkan, sebagian besar perusahaan-perusahaan yang memasukkan laporan keuangan ternyata mereka 2024 itu positif. Artinya mereka membukukan keuntungan,” tegas Iman.

