Sampoerna Agro (SGRO) bakal Masuk Pasar Siapkan Dana Buyback Saham Rp 450 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – PT Sampoerna Agro (SGRO) akan membeli kembali (buyback) saham dengan anggaran dana Rp 450 miliar. Aksi ini akan berlangsung tiga bulan mulai hari ini hingga 8 Juli 2025.
Manajemen SGRO dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (9/4/2025), menyebutkan bahwa langkah ini bertujuan untuk menjaga kestabilan antara fundamental SGRO dan fluktuasi kondisi pasar saat ini.
“Buyback juga bertujuan untuk menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan dapat dalam mendukung usaha perseroan guna mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan,” tulis penjelasan resminya di Jakarta, kemarin.
Baca Juga
Putera Sampoerna Alihkan Saham Sampoerna Agro (SGRO), Ada Apa?
Lebih lanjut manajemen SGRO menyebutkan bahwa aksi buyback tersebut tidak akan berdampak negative terhadap kinerja operasional dan pendapatan. Sebab, perseroan memiliki modal, saldo laba, dan arus kas yang kuat untuk mendukung aksi tersebut.
Perseroan juga telah menunjuk Bahana Sekuritas bertindak sebagai broker pelaksana buyback saham SGRO. Dengan demikian diharapkan tercipta kestabilan harga saham perseroan.
Sebelumnya, Sampoerna Agro (SGRO) akan menjadi perusahaan holding atau holding company dari sebelumnya bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit dan industry minyak sawit. Perubahan tersebut bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kinerja perseroan secara berkelanjutan ke depan.
Manajemen SGRO dalam pengumuman resminya menyebutkan bahwa perseroan nantinya menjadi perusahaan yang focus pada bidang investasi penyertaan modal pada entitas anak dan cucu usaha. Perubahan kegiatan usaha diprediksi membawa dampak positif terhadap keuangan perseroan ke depan.
Baca Juga
Reliance Sekuritas: IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi dengan Saham Pilihan INTP
“Meskipun perseroan kehilangan pendapatan langsung dari kegiatan usaha perkebunan kelapa sawit, pabrik kelapa sawit, dan perdagangan minyak kelapa sawit, namun imbal hasil investasi penyertaan modal pada anak usaha, jasa penasihat, dan perundingan diharapkan mensubstitusi pendapatan tersebut,” tulis prospectus ringkas perseroan.
Dengan perubahan kegiatan usaha ini, manajemen SGRO mengungkap, neraca keuangan diperkirakan meningkat pesat menjadi Rp 4,64 triliun pada 2029, dibandingkan tahun 2023 senilai Rp 333,57 miliar. Liabilitas perseroan juga diharapkan turun. Sedangkan ekuitas diharapkan meningkat hingga tahun 2029.
Aksi tersebut juga akan membuat laba usaha perseroan dari bisnis perkebunana kelapa sawit bisa melesat dari realisasi Rp 775,19 miliar pada 2024 menjadi Rp 1 triliun pada 2029. Sedangkan laba tahun berjalan diharapkan bisa melesat dari Rp 855,28 miliar menjadi Rp 1,14 triliun.

