Reliance Sekuritas: IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi dengan Saham Pilihan INTP
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (9/4/2025), diproyeksikan melanjutkan pelemahan dengan saham pilihan INTP, BBNI, BBRI, dan TLKM.
Reliance Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa secara teknikal, candle IHSG berbentuk bearish belt hold, di bawah MA5 dan MA20, serta indikator Stochastic dalam keadaan dead cross. “Namun, seiring dengan pelemahan bursa saham global, IHSG berpeluang lanjutkan pelemahan hari ini dengan saham layak diperhatikan INTP, BBNI, BBRI, dan TLKM,” tulisnya dalam riset pagi ini.
Baca Juga
Pergerakan indeks juga akan dipengaruhi laju bursa saham dunia, seperti Wall Street yang kembali melemah dengan penurunan Dow Jones 0,84%, Nasdaq turun 2,15%, dan S&P500 melemah 1,57%. Sebaliknya bursa saham Asia mayoritas ditutup naik kemarin dipimpin Nikkei menguat 6,03%.
Pergerakan indeks juga akan terpengaruh pembukaan pasar saham Asia, seperti Nikkei yang dibuka justru berbalik anjlok dan diikuti bursa Kospi. Sedangkan saham yang layak diperhatikan hari ini, Reliance Sekuritas menyebutkan, saham INTP direkomendasikan buy on weakness. Adapun tiga saham lainnya BBNI, BBRI, dan TLKM direkomendasikan sell on strength.
IHSG kemarin terperosok sebanyak 514,48 poin (7,90%) menjadi 5.996,14 dengan pemodal asing membukukan penjualan bersih (net sell) saham Rp 3,87 triliun. Net sell terbanyak melanda PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 1,27 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 1 triliun, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 875,85 miliar.
Baca Juga
Timah (TINS) Cetak Lonjakan Laba Jadi Rp 1,19 Triliun di 2024
Pelemahan indeks kemarin dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham setelah sejumlah bursa saham dunia anjlok signfikan selama libur lebaran setelah Trump menerapkan kebijakan resiprokal perdagangan. Meski demikian, sejumlah bursa saham Asia mulai rebound hari ini, seperti Nikkei dan Hang Seng.
Penurunan paling dalam melanda saham sektor material dasar dan sektor teknologi lebih dari 10%. Pelemahan juga dalam juga melanda saham industry, infrastruktur, consumer primer, dan energi lebih dari 8%. Sedangkan sektor dengan penurunan paling rendah dicatatkan consumer non primer hanya 4,97%.

