IHSG Ditutup Anjlok Hari Ini, Saatnya Panik atau Ambil Kesempatan?
JAKARTA, investortrust.id - Pasca libur panjang, pelaku pasar dikejutkan dengan penurunan dalam indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) saat pembukaan hingga lebih dari 9% ke bawah level psikologis 6.000 hingga terkena trading halt selama 30 menit, Selasa (8/4/2025). Meski akhirnya IHSG ditutup sedikit lebih baik ke level 5.996,14 dibandingkan level pembukaan.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, pelemahan tersebut menjadi koreksi harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir dan memicu kekhawatiran bahwa pasar sedang menuju krisis lanjutan.
Baca Juga
Net Sell Saham Melanda Rp 3,87 Triliun, Asing Buang Saham BMRI, BBRI, dan BBCA
“Sentimen pemicunya datang dari Presiden AS, Donald Trump, yang secara mengejutkan menaikkan tarif dagang hingga 32% terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (8/4/2025).
Meskipun ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 9,9% dari total ekspor nasional, dia mengatakan, reaksi pasar yang berlebihan mengindikasikan adanya kekhawatiran lebih dalam ketegangan dagang global, potensi perlambatan ekonomi dunia, serta belum adanya respons cepat dari pemerintah Indonesia sebelum pasar dibuka.
“Namun, di tengah tekanan ini, benarkah pasar modal Indonesia kehilangan daya tariknya? Jawabannya tidak. Koreksi yang terjadi lebih mencerminkan sentimen jangka pendek dan bukan kerusakan fundamental ekonomi,” bebernya.
Peluang Strategis
Justru saat investor panik, Hendra mengaku saat ini bisa menjadi peluang strategis untuk mulai mengoleksi saham-saham unggulan yang harganya terkoreksi dalam.
Terlebih, Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang tetap solid yakni pertumbuhan PDB stabil di kisaran 5%, neraca perdagangan masih surplus, dan fundamental emiten-emiten besar tetap kuat. Penurunan harga minyak dunia hingga 21% akibat ketegangan global bahkan bisa menjadi berkah terselubung bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, dengan potensi penghematan devisa hingga US$ 4 miliar.
Baca Juga
Perintahkan Jajaran Hapus Pertek, Presiden Prabowo: Pertek Harus Seizin Presiden
“Dari sisi teknikal, IHSG kini berada di area support 5.945–6.045, dengan level krusial selanjutnya di 5.500–5.636. Artinya, secara jangka pendek, masih ada risiko pelemahan lanjutan,” terang Hendra.
Namun, kemungkinan technical rebound tetap terbuka, terutama jika ada sinyal diplomasi tegas dari Presiden Prabowo Subianto dalam menanggapi kebijakan tarif Trump. Rencana pemerintah untuk memilih jalur negosiasi, bukan retaliasi, dinilai positif pasar internasional karena menunjukkan Indonesia tetap terbuka terhadap investasi dan menjaga stabilitas jangka panjang.
Relaksasi aturan TKDN untuk sektor ICT, evaluasi larangan terbatas (lartas), hingga rencana peningkatan impor produk agrikultur dari AS adalah bagian dari strategi negosiasi yang disiapkan pemerintah.
Baca Juga
Di tengah volatilitas ini, Hendra menyebut investor tetap bisa melirik sejumlah saham yang menarik untuk dikoleksi. “Saham konsumer seperti INDF dengan target harga Rp 7.500 dan AMRT di Rp 2.200 layak diperhatikan karena defensif terhadap gejolak global,” jelasnya.
Saham keuangan seperti BBNI masih undervalued dengan potensi rebound ke Rp 4.270. Saham-saham lain seperti TLKM, BRIS, dan SCMA juga menarik dikoleksi untuk jangka menengah dengan potensi gain 18–30%. Strateginya adalah tidak terburu-buru masuk sekaligus, tetapi bertahap atau average down sambil menanti konfirmasi teknikal.
“Di sisi lain, investor jangka pendek disarankan menerapkan strategi day trading atau swing trading dengan manajemen risiko yang ketat, mengingat pasar masih bergerak dalam volatilitas tinggi,” tuturnya.

