Berikut Kinerja Saham BUMN Kuartal I 2025, Krakatau Steel (KRAS) Memimpin
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak-anak usahanya pada kuartal I 2025 menunjukkan hasil beragam. Berdasarkan DataTrust yang dikumpulkan tim riset investortrust.id, pergerakan harga saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) memimpin dengan pertumbuhan 17,8% sejak awal tahun (year to date/ytd).
Hingga penutupan perdagangan pada Kamis (27/3/2025) di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham KRAS bertengger di level Rp 191 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 2,3 triliun. Harga ini bergerak dari Rp 110 per saham pada perdagangan 2 Januari 2025 di BEI.
Emiten pelat merah selanjutnya yang menunjukkan kenaikan harga saham adalah PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang naik 13,2% (ytd) menjadi Rp 240 per saham. BUMN karya ini pun mencetak kapitalisasi pasar sebesar Rp 2,01 triliun, sebelum perdagangan di BEI tutup pada libur Lebaran 2025.
Di posisi ketiga, ada PT PP Presisi Tbk (PPRE) dengan harga saham Rp 60 atau tumbuh 9,1% (ytd). Anak usaha dari PT PP Tbk (PTPP) ini, mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar Rp 613 miliar per 27 Maret 2025.
Sedangkan saham BUMN terakhir yang mencatatkan kenaikan harga pada kuartal I-2025 adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang naik 7,2% (ytd) menjadi Rp 1.635 dengan kapitalisasi pasar Rp 39,29 triliun.
Sementara itu, terdapat dua BUMN yang harga sahamnya stagnan sepanjang Januari-Maret 2025. Mereka adalah PT PP Properti Tbk (PPRO) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang masing-masing tetap di harga Rp 21 per saham dan Rp 202 per saham sejak awal tahun ini.
PP Properti memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 1,29 triliun sedangkan Waskita Karya masih memiliki kapitalisasi pasar Rp 5,81 triliun sejak awal tahun ini.
Baca Juga
Lompatan Saham BUMN hingga Emiten Big Cap Bikin IHSG Melejit 3,80%
Bank BUMN
Selanjutnya, saham BUMN dan anak usaha BUMN lain yang masuk riset Investortrust tercatat mengalami penurunan harga saham. Penurunan terendah dicatatkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak 0,7% (ytd) menjadi Rp 4.050 per saham.
Jumlah kapitalisasi pasar BRI di BEI pun menjadi Rp 613,81 triliun per 27 Maret 2025, berkurang sekitar Rp 7,58 triliun dari Rp 621,39 triliun pada pembukaan perdagangan 2 Januari 2025.
Anak usaha BRI yakni PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mengalami penurunan harga saham yang lebih besar dari induk usahanya, yakni 22% (ytd) menjadi Rp 181 dengan kapitalisasi pasar Rp 4,47 triliun.
Sementara itu, penurunan kinerja saham juga dialami PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), yakni 2,5% (ytd) menjadi Rp 4.240 per saham dengan kapitalisasi pasar sebanyak Rp 158,14 triliun.
Bank pelat merah selanjutnya dengan harga saham tergerus adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 8,8% (ytd) menjadi Rp 5.200 dengan kapitalisasi pasar Rp 483,33 triliun.
Sedangkan harga saham PT Bank Syariah Indonesia (BRIS), yang 51,47% sahamnya dimiliki Bank Mandiri, mengalami penurunan 14,3% (ytd) menjadi Rp 2.340 dengan kapitalisasi pasar Rp 107,94 triliun.
Dalam kurun waktu yang sama, Bank BUMN dengan penurunan harga saham paling besar adalah PT Bank Tabungan Negara (BTN), yakni 22,4% (ytd) menjadi Rp 885. Dengan begitu, BTN memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 12,42 triliun di akhir kuartal I 2025.
Saham BUMN Karya yang Turun
Berbeda nasib dengan saham pelat merah karya seperti ADHI dan PTPP, anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), yakni PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) justru mengalami penurunan harga saham 1,3% (ytd) menjadi Rp 76. WTON pun mencatatkan jumlah kapitalisasi pasar sebanyak Rp 662 miliar pada akhir Maret 2025.
Harga saham anak usaha BUMN lain, yakni Pertamina juga terkoreksi. Mereka adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).
Harga saham PGAS turun 22,2% (ytd) menjadi Rp 1.555 dengan kapitalisasi pasar Rp 37,69 triliun. Sedangkan harga saham ELSA sebanyak 2,3% (ytd) menjadi Rp 422 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp 3,08 triliun.
Pada tiga bulan pertama tahun ini, saham TUGU juga terdilusi yakni 5,8% (ytd) menjadi Rp 970 dengan kapitalisasi pasar Rp 3,44 triliun. Sementara PGEO mencatatkan penurunan 13,9% (ytd) menjadi Rp 805 dengan jumlah kapitalisasi pasar Rp 33,41 triliun.
BUMN Infrastruktur & Basic Materials
Berikutnya, ada perusahaan jalan tol pelat merah yang mengalami penurunan harga saham 8,1% (ytd) yakni PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Saham perseroan mendarat di harga Rp 3.980 pada akhir Maret 2025 dengan kapitalisasi pasar Rp 28,88 triliun.
Dari sektor infrastruktur, harga saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga terkoreksi, yakni 11,1% (ytd) menjadi Rp 2.450 dengan kapitalisasi pasar Rp 238,74 triliun.
Sedangkan harga saham pelat merah dari sektor bahan baku (basic materials), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) beserta anak usahanya yakni PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) turun masing-masing 19,5% (ytd) dan 16,7% (ytd).
Harga saham SMGR akhir Maret 2025 menjadi Rp 2.650 sedangkan SMBR menjadi Rp 170 per saham. SMGR masih memiliki kapitalisasi pasar Rp 17,89 triliun dan SMBR Rp 1,68 triliun.
Baca Juga
Seluruh Saham BUMN Terbang hingga Beberapa Cetak ARA Hari Ini, Danantara mulai Masuk Pasar Saham?
Saham-Saham MIND ID
Penurunan harga saham selanjutnya, dialami PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 8,4% (ytd) menjadi Rp 2.520. Anak BUMN PT Mineral Industri (MIND ID) ini mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar Rp 29,03 triliun per 27 Maret 2025.
Sementara itu, harga saham PT Timah Tbk (TINS) turun lebih banyak, yakni 10,3% (ytd) menjadi Rp 960 dengan kapitalisasi pasar Rp 7,15 triliun. Terakhir, dua saham BUMN dengan penurunan harga paling besar, dialami oleh PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Saham keduanya tergerus masing-masing 25,5% dan 30,3% dari posisi awal tahun.
Harga saham GIAA ditutup pada level Rp 41 di akhir kuartal I-2025 sedangkan saham KAEF menjadi Rp 422. Garuda Indonesia memiliki kapitalisasi pasar sebanyak Rp 3,75 triliun pada periode tersebut sedangkan Kimia Farma mencatatkan kapitalisasi pasar Rp 2,34 triliun.

