Energi Mega (ENRG) Cetak Kenaikan Laba 10%, Dua Faktor Ini Jadi Penopangnya
JAKARTA, investortrust.id - PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebanyak 10% menjadi US$ 75,39 juta pada 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 68,43 juta.
Manajemen ENRG dalam rilis kinerja keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (25/3/2025), menyebutkan bahwa pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan sebanyak 11% menjadi US$ 467,42 juta, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 420,77 juta. EBITDA juga naik dari US$ 265,70 juta menjadi US$ 278,85 juta.
Baca Juga
Harga Saham Tak Cerminkan Fundamental, Energi Mega (ENRG) Rancang Buy Back Rp 192,22 Miliar
Manajemen ENRG menyebutkan bahwa pertumbuhan kinerja tersebut ditopang pertumbuhan produksi dan harga jual minyak dan harga. Hal ini menjadikan pendapatan dan laba bersih perseroan tahun lalu bertumbuh. Adapun, produksi gas dan harga jual minyak perseroan tumbuh konsisten tahun 2024, dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan produksi didukung atas keberhasilan Energi (ENRG) mengakuisisi dua aset minyak, KKS Siak dan KKS Kampar di Riau, Sumatera. Dua aset baru ini memiliki andil besar terhadap pertumbuhan produksi perseroan. “Kami juga berharap akuisisi atas KKS Sengkang di Sulawesi Selatan akan meningkatkan produksi gas perseroan tahun ini,” tutur manajemen ENRG dalam penjelasan resmi tersebut.
Energi Mega (ENRG) sebelumnya telah mengumumkan rencana pembelian kembali (buy back) saham dengan target dana senilai US$ 12 juta atau setara dengan Rp 192,22 miliar. Sedangkan jumlah buy back saham diperkirakan tak lebih dari 10%.
Baca Juga
Gelontorkan Rp 13,6 T untuk Diskon Tarif Listrik, Sri Mulyani Sebut untuk Stabilisasi Harga
Manajemen menyebutkan bahwa buy back saham ini bertujuan untuk peningkatan investasi pemegang saham perseroan melalui pengurangan jumlah saham beredar melalui buy back akan meningkatkan laba per saham sebagai tolak ukur tingkat profitabilitas perseroan.
Buy back saham juga merefleksikan kepercayaan manajemen terhadap pertumbuhan kinerja atau performa Energi (ENRG) saat ini dan di masa depan. “Manajemen perseroan berkeyakinan bahwa harga saham saat ini belum mencerminkan nilai fundamental perseroan dan kinerja ENRG,” tulis manajemen.

