Kripto Bisa Jadi Alternatif Investasi Investasi di Tengah Lesunya IHSG?
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi yang signifikan dalam beberapa waktu belakangan. Meski begitu, IHSG mampu bangkit ke zona hijau. Namun kondisi ini tetap membuat investor mencari alternatif investasi lain, salah satunya aset kripto.
CMO Tokocrypto Wan Iqbal menyatakan, jika dinamika pasar saham dan aset safe haven seperti emas serta Bitcoin memiliki perbedaan yang signifikan. “Bitcoin turun 5-10% dalam sehari adalah hal biasa, tetapi IHSG yang merupakan gabungan dari saham-saham perusahaan terbaik di Indonesia mengalami pergerakan 5% saja sudah berdampak besar,” ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (20/3/2025).
IHSG, lanjut Iqbal, merupakan salah satu indikator utama yang mencerminkan kondisi perekonomian nasional. Karena pergerakannya tak hanya mencerminkan kepercayaan investor terhadap pasar modal di dalam negeri, tapi juga menjadi barometer stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Menurutnya, hal yang sama juga bagi pasar kripto, yang semakin berkembang sebagai alternatif investasi dan memiliki korelasi dengan dinamika ekonomi global serta adopsi teknologi keuangan di Indonesia.
“Kami berharap perekonomian Indonesia terus berkembang secara berkelanjutan, didukung oleh kebijakan yang kondusif, inovasi sektor keuangan, serta meningkatnya literasi investasi di kalangan masyarakat,” kata Iqbal.
Baca Juga
Bitcoin Menguat Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Bagaimana Pergerakan Selanjutnya?
Dikatakan dia, di tengah kondisi ketidakpastian pasar saham, diversifikasi aset investasi menjadi langkah yang bijak untuk menjaga stabilitas keuangan. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah pasar kripto.
Iqbal menjelaskan, salah satu keunggulan kripto adalah keberadaan stablecoin, yakni aset digital yang nilainya mengikuti dolar Amerika Serikat (AS) atau emas. Ini memberikan kenyamanan bagi investor pemula yang ingin berinvestasi di kripto tanpa mengalami volatilitas tinggi seperti yang terjadi pada aset kripto lainnya.
“Selain stablecoin, aset kripto dengan fundamental kuat seperti Bitcoin juga menjadi pilihan bagi investor yang ingin memulai dengan aset yang lebih stabil sebelum mengeksplorasi aset dengan volatilitas lebih tinggi,” ucapnya.
“Tren ini terlihat dari semakin banyaknya investor baru yang masuk ke pasar kripto Indonesia, dimulai dengan aset-aset yang lebih aman sebelum memperluas portofolio mereka,” sambung Iqbal.
Baca Juga
Investor Jangka Panjang Tetap Optimistis, Bitcoin Bersiap untuk Dinamika Pasar Unik
Terlepas dari itu, industri kripto nasional tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Data Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak dari transaksi aset kripto mencapai Rp 1,21 triliun hingga Februari 2025. Angka ini mencerminkan pertumbuhan yang pesat dalam transaksi aset digital sejak 2022.
Jika dirinci berdasarkan tahun, penerimaan ini berasal dari Rp 246,45 miliar pada 2022, Rp 220,83 miliar pada 2023, Rp 620,4 miliar pada 2024, dan Rp 126,29 miliar pada awal 2025. Dari sisi transaksi, nilai perdagangan aset kripto juga mengalami kenaikan signifikan.
Pada Januari 2024, nilai transaksi mencapai Rp 44,07 triliun, meningkat 104,31% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 21,57 triliun.
“Meskipun pasar saham mengalami tekanan, bukan berarti investor harus menghindari investasi sepenuhnya. Diversifikasi ke aset lain seperti kripto dapat menjadi strategi untuk mengurangi risiko dan menjaga stabilitas portofolio,” kata Iqbal.
“Dengan pertumbuhan positif yang terus berlanjut, pasar kripto bisa menjadi alternatif investasi yang menarik bagi mereka yang ingin mencari peluang baru di tengah ketidakpastian ekonomi,” katanya.

