AS - Houthi Saling Ancam, Laju Minyak Ikut Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Pada pembukaan pekan pagi ini Senin, (17/3/2025) harga minyak terpantau bergerak terkoreksi menguat dipicu oleh eskalasi serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Houthi yang membuat ketegangan kembali memuncak di jalur pelayaran utama Laut Merah.
Dalam pandangan riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), meski demikian, data lesu ekonomi China dan proyeksi pesimis Goldman Sachs membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
“Tepat sehari setelah serangan udara yang menewaskan setidaknya 53 orang, AS menegaskan akan terus menyerang Houthi Yaman hingga mereka mengakhiri serangan terhadap pengiriman di jalur Laut Merah, seorang pejabat AS mengatakan bahwa serangan yang dilancarkan AS mungkin akan terus berlanjut selama berminggu-minggu,” tulis riset ICDX, Senin, (17/3/2025).
Baca Juga
Menanggapi peringatan AS tersebut, pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi pada hari Minggu mengancam akan menargetkan kapal-kapal AS di Laut Merah selama AS melanjutkan serangannya terhadap Yaman.
Dukungan lainnya datang dari berita ledakan di kilang minyak di kota Ryazan yang terjadi saat berlangsungnya pekerjaan teknis terjadwal. Kilang yang dimiliki oleh produsen minyak terbesar Rusia, Rosneft itu memproduksi 13,1 juta metrik ton (262.000 bph) atau hampir 5% dari total produksi kilang minyak Rusia pada tahun 2024.
Sementara itu, setelah dua bulan harga yang relatif stabil, harga rumah baru di China turun 0,1% pada bulan Februari karena permintaan di sektor properti yang tetap rendah meskipun pemerintah berjanji untuk memberikan lebih banyak stimulus.
Baca Juga
Ketidakpastian Ekonomi Global Meningkat, Harga Minyak Melemah
“Turut membebani harga, bank investasi terkemuka Goldman Sachs merilis proyeksi pasar minyak terbarunya dengan memangkas perkiraan harga minyak karena prospek pertumbuhan ekonomi AS yang tertekan oleh perang tarif,” ulas riset tersebut.
Harga minyak mentah Brent dipangkas turun sebesar US$ 5 menjadi US$ 71 per barel untuk tahun ini dan kembali turun menjadi US$ 68 per barel pada tahun 2026. Sementara minyak WTI dipangkas turun menjadi US$ 67 per barel tahun ini dan berlanjut turun menjadi US$ 64 per barel pada tahun depan.
ICDX melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 70 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 65 per barel.

