Ketidakpastian Ekonomi Global Meningkat, Harga Minyak Melemah
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia melemah 2 hari berturut-turut, pada Selasa (11/3/2025) dipicu kekhawatiran kebijakan tarif AS terhadap Kanada, Meksiko, dan China akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menekan permintaan energi.
Harga minyak Brent acuan global turun ke US$ 68,50 per barel, sementara WTI acuan AS turun ke US$ 65,50 per barel.
Baca Juga
Sinyal Melesunya Ekonomi China Buat Laju Harga Minyak Terkoreksi
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menunjukkan, penurunan harga minyak diperparah data inflasi China yang lebih lemah dari perkiraan, dengan indeks harga konsumen (CPI) turun 0,7% secara tahunan pada Februari. Hal ini mengindikasikan lemahnya aktivitas ekonomi di negara importir minyak terbesar dunia itu.
“Selain itu, komentar Presiden AS Donald Trump tentang periode transisi ekonomi semakin meningkatkan ketidakpastian di pasar, yang mendorong aksi jual besar-besaran dalam komoditas energi,” tulis riset ICDX, Selasa, (11/3/2025).
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi pasokan, dengan keputusan OPEC+ meningkatkan produksi mulai April. Arab Saudi menurunkan harga jual resmi (OSP) untuk minyak Arab Light di Asia sebesar US$ 0,40 per barel, mencerminkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan di tengah lesunya permintaan.
Sementara itu, impor minyak mentah China dalam 2 bulan pertama tahun ini turun 3,4% year on year (YoY) menjadi 10,4 juta barel per hari, lebih rendah dibandingkan 11,3 juta barel per hari pada Desember lalu.
“Dengan kombinasi pasokan yang meningkat dan permintaan melemah, harga minyak kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan dalam beberapa minggu mendatang,” ulasnya.
Baca Juga
Di tengah volatilitas pasar minyak, Departemen Energi AS (EIA) dijadwalkan merilis laporan prospek energi jangka pendek yang dapat memberikan gambaran tentang perkiraan produksi minyak dan gas AS.
“Sebelumnya, EIA memperkirakan produksi minyak mentah AS akan tumbuh 380.000 barel per hari pada 2025 dan 140.000 barel per hari pada 2026. Namun, dengan ketidakstabilan harga saat ini, proyeksi tersebut dapat direvisi,” papar riset tersebut.
Selain itu, ada kemungkinan bahwa tarif energi AS terhadap minyak impor Kanada dapat dicabut dalam beberapa bulan mendatang, menyusul pernyataan Menteri Energi AS Chris Wright yang menyebut adanya "dialog aktif" terkait kebijakan tersebut. “Keputusan ini berdampak pada dinamika pasokan minyak ke pasar global dan menjadi faktor tambahan dalam pergerakan harga minyak ke depan,” urainya.
ICDX melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui resistance terdekat di level US$ 71 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif, maka harga minyak berpotensi turun ke support terdekat US$ 59 per barel.

