Telkom (TLKM) Turunkan Rasio Capex, Bukan karena Danantara
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menurunkan rasio belanja modal (capital expenditure/capex) hingga tiga tahun ke depan. Namun, penurunan itu bukan karena laba Telkom bakal lebih banyak disetorkan sebagai dividen ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
“Sejauh ini tidak ada instruksi kepada kami dari Danantara untuk mengurangi capex karena setoran dividen akan diperbesar,” ujar Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah menjawab investortrust.id pada acara Executive Media Gathering dengan para pemimpin redaksi media massa nasional di Jakarta, Jumat (7/3/2025) malam.
Ririek menjelaskan, dalam capex guidance Telkom, rasio capex terhadap pendapatan perseroan dalam tiga tahun ke depan menurun. Jika pada 2024 rasionya berkisar 22-24% maka pada 2028 turun menjadi 17-19%.
Baca Juga
Saham TLKM Terpangkas 38% dalam Setahun, Bos Telkom Siapkan "Buyback"
Menurut Ririek Adriansyah, rasio capex terhadap pendapatan Telkom tahun lalu (hingga kuartal III) mencapai 15,6% dengan nilai Rp 17,5 triliun. Angka itu turun dibandingkan perode sama tahun sebelumnya yang mencapai 19,9% senilai Rp 22,1 triliun.
“Capex Telkom hingga kuartal III-2024 dialokasikan untuk lini bisnis connectivity sebesar 85,8%, platform 7,3%, services 6,2%, dan legacy 0,7%,” tutur dia.
Penurunan rasio capex Telkom, kata Ririek, tak ada kaitannya dengan Danantara. Penurunan capex semata-mata dilakukan karena belanja modal emiten pelat merah bersandi saham TLKM itu diupayakan seefisien mungkin.
Baca Juga
Begini Target Harga Terbaru Saham Telkom (TLKM), Masih Ada Potensi Cuan?
“Capex itu kan ada beberapa macam. Ada yang business as usual seperti untuk base transceiver station (BTS). Ada juga yang digunakan untuk bisnis baru. Nah, kami akan lebih efisien memanfaatkannya. Jadi, sebetulnya tidak berkurang,” papar dia.
Ririek Adriansyah menambahkan, lini bisnis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan data center yang menjadi sumber pendapatan baru Telkom membutuhkan capex besar. Itu sebabnya, meski dalam capex guidance ada penurunan, capex Telkom tetap dibuat fleksibel.
“Kalau nanti harus bagi dividen dalam jumlah besar tapi kami butuh capex tambahan, ya diupayakan dapat tetap terpenuhi,” tandas dia.
Sementara itu, Direktur Finance and Risk Management Telkom, Heri Supriadi mengemukakan, efisiensi capex terus dilakukan Telkom, di antaranya melalui pembelian peralatan yang sesuai kebutuhan.
“Kami beli alat produksi sesuai kebutuhan aja. Kami juga melakukan ekspansi sesuai demand. Misalnya kami sekarang tidak terburu-buru membangun tanpa tahu bagaimana demand ke depan,” kata Heri Supriadi.
Ririek Adriansyah mengungkapkan, kinerja bisnis Telkom terus bertumbuh. Hingga kuartal III-2024, pendapatan Telkom Group naik 0,9% menjadi Rp 112,2 triliun. Jumlah pelanggan juga bertambah 0,1% menjadi 158,4 juta, dengan kenaikan payload (trafik layanan data) sebesar 12,4% menjadi 14.553 petabyte dan convergence ratio (rasio jumlah pelanggan yang memiliki broadband dan seluler) sebesar 53%.
Baca Juga
Dukung Transformasi Digital Indonesia, Telkom (TLKM) Agresif Kembangkan AI
Sampai akhir tahun lalu, menurut Ririek Adriansyah, kinerja bisnis Telkom juga masih berada di jalur positif, baik secara tahunan (year on year/yoy) maupun secara kuartalan (quarter to quarter/q to q). “Pendapatan Telkom Group kami estimasikan naik, jumlah pelanggan juga bertambah. Begitu pula payload dan convergence ratio, semua naik,” tegas dia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham TLKM pada penutupan perdagangan Jumat (7/3/2025) naik tipis Rp 10 (0,40%) ke level 2.410 dengan market cap Rp 238,74 triliun. Hingga kuartal III-2024, Telkom membukukan laba bersih Rp 17,7 triliun, turun 9,2% dibanding Rp 19,5 triliun pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Saham TLKM memiliki price to earning ratio (PER) disetahunkan (annualized) 10,13 kali dengan price to book value (PBV) 1,5 kali. Telkom baru akan merilis kinerja keuangan setahun penuh (full year) 2024 pada 25 Maret mendatang.

