Harga Minyak Tertekan Setelah Trump Kembali Tambahkan Tarif untuk China
JAKARTA, investortrust.id - Pada perdagangan pagi akhir pekan ini, Jumat, (28/2/2025) harga minyak terpantau bergerak bearish dipicu oleh potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak akibat perang tarif Trump serta sinyal ekonomi Amerika Serikat yang melesu.
Dalam pandangan riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), memaparkan, isyarat OPEC+ untuk memungkinkan menunda kenaikan produksi dan keraguan akan kelanjutan kesepakatan damai Gaza berpotensi mendorong harga kembali bullish.
Sebagaimana diberitakan Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis mengatakan tarif 25% yang diusulkannya untuk barang-barang Meksiko dan Kanada akan mulai berlaku pada tanggal 4 Maret bersamaan dengan tambahan tarif 10% untuk impor China karena masih beredarnya fentanil di AS.
“Dengan tambahan tarif tersebut, maka total tarif yang akan dikenakan ke China menjadi 20%. Keputusan Trump tersebut berpotensi memicu eskalasi tensi lebih lanjut dengan China,” tulis riset ICDX, Jumat, (28/2/2025)
Baca Juga
Harga Minyak Naik Lebih dari 2% Setelah Trump Cabut Lisensi Chevron di Venezuela
Turut membebani harga, laporan resmi yang dirilis hari Kamis oleh Biro Analisis Ekonomi (BEA) Departemen Perdagangan, pertumbuhan ekonomi AS melambat pada kuartal keempat dan tren tersebut kemungkinan akan terus berlanjut pada awal kuartal ini.
“Di hari yang sama, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan kenaikan klaim tunjangan pengangguran yang melonjak lebih dari perkiraan pada minggu sebelumnya, menunjukkan kenaikan terbesar dalam lima bulan. Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS yang terus melambat,” ulas riset tersebut.
Sementara itu, OPEC dan sekutunya sedang berdebat apakah akan meningkatkan produksi minyak sebesar 138.000 bph pada bulan April sesuai rencana, atau menundanya karena para anggotanya kesulitan membaca gambaran pasokan global di tengah sanksi baru AS terhadap Venezuela, Iran, dan Rusia, kata delapan sumber OPEC+. Rusia dan UEA merupakan dua anggota yang mengisyaratkan ingin melanjutkan peningkatan produksi.
Dari Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar pada hari Kamis mengumumkan bahwa Israel telah mengirim negosiator ke Kairo untuk berunding, dengan tujuan memperpanjang fase pertama gencatan senjata yang akan berakhir dalam dua hari, agar dapat membebaskan lebih banyak sandera sambil menunda kesepakatan akhir tentang masa depan Gaza.
“Komentar Saar tersebut berpotensi akan berdampak pada kelanjutan kesepakatan damai Gaza, karena dari kelompok Hamas pada hari Kamis mengatakan telah siap untuk memulai perundingan fase kedua, dan menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk membebaskan sandera yang tersisa di Gaza adalah melalui komitmen terhadap gencatan senjata,” urainya.
ICDX melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 72 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 68 per barel.

