Harga Minyak Kembali Meredup Dibayangi Potensi Target Baru Tarif Trump
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pagi ini, Rabu (26/2/2025) terpantau bergerak terkonsolidasi setelah ditutup merosot turun hampir 3% pada penutupan perdagangan kemarin. Pergerakan minyak didorong target baru tarif Trump dan potensi tambahan pasokan minyak Irak menjadi katalis negatif bagi minyak. Meski demikian, sinyal memanasnya situasi Timur Tengah dan laporan stok API membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan, Presiden Donald Trump pada hari Selasa memerintahkan Menteri Perdagangan Howard Lutnick untuk memulai penyelidikan yang berpotensi mengarah pada penerapan tarif baru atas impor tembaga AS.
“Chili, Kanada, dan Meksiko, merupakan pemasok utama tembaga ke AS, isyarat Trump untuk memperluas target perang tarif memicu kekhawatiran akan membebani pertumbuhan ekonomi global, yang akan turut membuat permintaan minyak ikut tertekan,” urai riset ICDX, Rabu, (26/2/2025).
Baca Juga
Turut membebani harga, Irak dan BP secara resmi menandatangani kesepakatan untuk membangun kembali empat ladang minyak dan gas di Kirkuk, ungkap pernyataan dari kantor perdana menteri Irak pada hari Selasa.
“Melalui kerjasama tersebut diharapkan total kapasitas produksi minyak mentah dari empat ladang minyak di Kirkuk akan dapat ditingkatkan menjadi setidaknya 450.000 bph dalam 2-3 tahun mendatang,” tulis riset tersebut.
Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat pasca pesawat tempur Israel melancarkan serangan ke sebuah kota di selatan ibu kota Suriah serta provinsi selatan Daraa pada Selasa malam, kutip sumber keamanan Suriah dan media lokal.
Baca Juga
Harga Minyak Jatuh Lebih dari 2%, Meski Pasar Khawatirkan Gangguan Pasokan
Juru bicara Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari kebijakan baru Israel untuk menenangkan Suriah selatan agar tidak menjadi Lebanon selatan.
Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh grup industri API menunjukkan stok minyak mentah turun sebesar 640 ribu barel untuk pekan yang berakhir 21 Februari. Laporan API tersebut mengindikasikan permintaan yang positif di pasar energi AS.
“Meski demikian, pasar masih menantikan rilisnya laporan resmi versi pemerintah yang akan dirilis Rabu malam oleh badan statistik EIA,” jelasnya.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 71 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 67 per barel.

