Produksi Kazakhstan Capai Rekor, Harga Minyak Kembali Meredup
JAKARTA, investortrust.id - Pada penutupan pekan pagi ini, Jumat (21/2/2025) harga minyak terpantau bergerak terkoreksi bearish dibebani oleh sentimen dari meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak Kazakhstan, dan rilisnya laporan stok terbaru EIA. Meski demikian, isyarat kembali memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menunjukkan, produksi kondensat minyak dan gas di Kazakhstan pada tanggal 19 Februari mencapai sekitar 2,12 juta bph, atau rata-rata di atas 920 ribu bph, naik dari sekitar 900 ribu bph di awal Februari dan rata-rata 640 ribu bph pada bulan Januari.
“Komentar tersebut meredam kekhawatiran pasca Rusia mengatakan baru-baru ini bahwa kapasitas di jalur CPC yang rusak akibat serangan drone Ukraina berdampak mengurangi pasokan minyak Kazakhstan via jalur tersebut hingga 40%,” papar riset ICDX, Jumat (21/2/2025).
Baca Juga
Harga Minyak Bergolak Tiga Hari Beruntun, Ini yang Jadi Biang Kerok
Turut membebani harga, dalam laporan yang dirilis oleh badan statistik EIA untuk pekan yang berakhir 14 Februari menunjukkan stok minyak mentah melonjak naik sebesar 4,63 juta barel, melebihi prediksi awal yang memperkirakan stok akan naik sebesar 3 juta barel. Data resmi versi pemerintah tersebut mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar energi AS.
Sementara itu, pihak militer Israel pada hari Jumat menuduh Hamas telah melakukan pelanggaran serius atas pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata karena salah satu dari empat jenazah yang diserahkan oleh kelompok itu pada hari Kamis bukan termasuk sandera yang ditahan di Gaza.
“Berita tersebut memicu pesimisme akan kelanjutan negosiasi untuk tahap kedua gencatan senjata yang diperkirakan akan dimulai dalam beberapa hari mendatang,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Gara-gara Serangan Drone Ukraina, Harga Minyak Melonjak saat Pasar 'Bearish'
Masih dari Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk melaksanakan operasi intensif di Tepi Barat setelah terjadi ledakan tiga bus di dua pinggiran kota Israel di luar Tel Aviv pada hari Kamis.
“Ledakan bus yang terjadi di tengah berlangsungnya gencatan senjata Gaza yang rapuh meningkatkan kekhawatiran akan memicu eskalasi geopolitik di kawasan tersebut kembali memanas,” paparnya.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 75 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 70 per barel.

