Di Tengah Ketidakpastian Pasar Saham, Jenis Reksa Dana Ini Jadi Pilihan
JAKARTA, investortrust.id – Ketidakpastian global yang juga akan memengaruhi perekonomian Indonesia bisa membuat instrumen investasi reksa dana pendapatan hingga pasar uang menjadi idola. Hal ini didukung mayoritas profil risiko investor Indonesia yang menggemari aset dengan risiko rendah.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, secara data industri, biasanya jenis investasi yang konservatif, seperti pasar uang, proteksi, dan pendapatan tetap, lebih digemari. Hal ini sesuai dengan profil risiko investor. “Untuk jenis lainnya tetap ada, tetapi permintaan lebih kecil,” ungkap Rudi kepada Investortrust, Selasa (25/2/2205)
Senada, Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebut bahwa reksa dana pendapatan tetap masih memimpin sampai saat ini karena kinerja yang lebih konsisten dan risiko yang rendah. Di samping itu kinerja reksadana saham sedang negatif seiring penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Baca Juga
Saat Pasar Masih Bergejolak, BNI Asset Management Sarankan Reksa Dana Ini
“Jadi yang tumbuh adalah pasar uang dan pendapatan tetap karena pemasar pun lebih nyaman menjual produk yang lebih konsisten, saat pasar global berfluktuasi,” tegas Wawan saat dihubungi secara terpisah.
Sementara itu, Direktur BNI Asset Management (BNI AM)Putut Endro Andanawarih menilai bahwa aset dan komoditas safe haven cenderung unggul sepanjang semester I-2025, sehingga saat ini menjadi momentum yang sangat baik untuk berinvestasi di reksa dana indeks.
Dia mengatakan, kecenderungan memilik reksa dana indeks juga dipengaruhi iklim investasi pasar modal, khususnya saham masih wait and see menjelang masa transisi pemerintahan baru.
Baca Juga
Bangun Industri Reksa Dana, AMII Jalin Kerja Sama dengan Asosiasi Reksa Dana India
Sedangkan alternatif investasi lain, menurut dia, bisa obligasi dengan tenor pendek, karena volatilitas cenderung lebih rendah. “Diharapkan produk Indeks BNI AM bisa menjadi solusi untuk mengoptimalkan dana investasinya dan bisa menjadi keputusan dalam mengambil investasi yang terbaik,” tambah Putut.
Optimistis Naik
Wawan dan Rudiyanto optimistis jumlah dana kelolaan (asset under management/AUM) reksadana berpotensi meningkat tahun ini. Pasalnya Wawan menegaskan, masih terdapat investor sebanyak 14,3 juta yang terus bertambah meski sebagian besar merupakan Gen Z.
Investor baru tersebut memang diakui belum banyak menyumbang pertumbuhan AUM. “Tetapi potensi untuk generasi muda ini memupuk kekayaan atau mendapatkan warisan semakin besar,” ujar Wawan.
Baca Juga
Di sisi lain regulator dan industri juga terus berinovasi. Keberadaan bank bullion atau bank emas memungkinkan exchange traded fund (ETF) emas untuk diluncurkan pada masa depan, yang akan termasuk menjadi dana kelolaan reksadana.
Terkait penurunan AUM reksa dana dalam beberapa bulan terakhir, Wawan mengatakan, dipicu redemption, ketatnya regulasi unit link , dan penurunan nilai investasi DPLK pada reksa dana. Penurunan juga dipicu atas persaingan reksa dana dengan produk investasi crypto atau emas yang mengejar potensi kenaikan tinggi. “Kita harapkan relaksasi dan perluasan kelas aset reksa dana dapat didorong agar ada inovasi yang mampu membuat kinerja reksa dana kembali bersaing,” ungkapnya.

