Tahun Ular Kayu, Saatnya Membeli Saham yang Sedang Layu
JAKARTA, investortrust.id - Tahun 2025 akan menjadi tantangan bagi dunia investasi Tanah Air. Pada tahun ular kayu ini, banyak pakar yang menyebut bahwa belum saatnya ekuitas tumbuh dan masih menjadi tahun surat utang.
Meski begitu, CEO Investortrust.id Primus Dorimulu berkeyakinan bahwa 2025 akan menjadi tahunnya ekuitas. Sebab, di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI, para investor dapat menempatkan momentum untuk membeli saham.
“It’s time to buy! Intinya tetap saja, buy low, sell high. Sekarang lagi low-low-nya,” ujar Primus saat membuka Best Stock Awards 2025 yang digelar investortrust.id, di Jakarta, Selasa (25/2/2025).
Baca Juga
Sinarmas Sekuritas Targetkan IHSG 2025 ke Level 8.100, Ada 7 Saham Pilihan Teratas
Primus mengatakan, kinerja saham selama enam tahun terakhir bergerak stagnan. Kenaikan IHSG terjadi pada 2019, ketika pemilihan umum serentak digelar. Selama 2019, IHSG bergerak pada level 5.800 hingga 6.600. “Mencapai level tertinggi 6.636,” ujar dia.
Sementara itu, pada 2024, IHSG mencapai level tertinggi pada 19 Juni 2024 sebesar 7.905. Usai sentuh puncak tersebut, IHSG kembali melemah.
Sedangkan pada 2025 ini, dia mengatakan, IHSG sempat naik ke level 7.044,71 pada 6 Februari 2025. Tetapi, IHSG kembali melemah ke bawah level 7.000, tepatnya level 6.749,6 pada penutupan perdagangan Senin (24/2/2025).
Pelemahan IHSG pada 2025 ini dipicu sentimen negative dari pasar global. Di antaranya, munculnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) berimbas negatif terhadap ekonomi global dan Indonesia.
“Kalau kita perhatikan, pasar modal Indonesia sangat tergantung pada peran asing, investor asing,” ujar dia menganalisis.
Primus menunjukkan peran investor asing tersebut terlihat dari aktivitas net buy dan net sell di pasar saham dan surat utang. Pada awal 2025, banyak investor asing yang menjual saham. Berdasarkan DataTrust Investortrust, sebanyak Rp 15,16 triliun saham dijual investor asing. Sebagai gantinya, investor membeli Surat Berharga Negara (SBN) dengan besaran Rp 18,99 triliun.
Pemodal mulai mengarahkan dananya ke AS sejalan dengan kebijakan domestik Trump. Primus menyebut, meski disertai efisiensi besar-besaran, Trump berupaya untuk mengarahkan kebijakan ke belanja pemerintah yang besar-besaran. “Ekonomi Amerika bagus tahun ini. 2025 bertumbuh 2,2%, diperkirakan,” ucap dia.
Meski bertumbuh baik, Primus memperkirakan utang AS mengalami kenaikan mencapai US$ 35,6 triliun. Angka tersebut setara dengan rasio 123% terhadap PDB AS yang sekitar US$ 26 triliun.
Selain itu, dia mengatakan, kebijakan Trump dapat membuat inflasi di AS meningkat. Inflasi AS per Januari 2025 tercatat sebesar 3,0%. Akibat kondisi ini, The Fed diperkirakan tetap akan mempertahankan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate (FFR), di level 4,5%. Ruang penurunan FFR diyakini hanya sekali pada tahun ini dengan besaran 25 basis poin (bps).
“Dengan demikian, maka suku bunga di Indonesia diperkirakan masih tinggi juga. Sekaranga (BI Rate) 5,75%” kata dia.
Suku Bunga
Primus bercerita langkah BI menahan suku bunga acuan dilakukan demi menjaga stabilitas. Meski memiliki peran ganda, menjaga stabilitas keuangan dan pertumbuhan ekonomi, BI akan mendahulukan peran stabilitas demi stabilitas nilai tukar rupiah. “Jangan sampai rupiah bergerak liar ke Rp 16.500, Rp 17.000 dan seterusnya,” ucap dia.
Melemahnya rupiah juga akan menjadi penilaian bagi investor asing. Sebab, beberapa investor relation membeli barang di Indonesia menggunakan rupiah. “Jadi kalau rupiahnya melemah, mereka juga tidak untung investasi portofolionya,” kata dia.
Meski demikian, Primus tetap optimis dengan keputusan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Meski terjadi efisiensi di kementerian/lembaga (K/L) pemerintah juga mendorong tujuh motor pertumbuhan ekonomi ke 8%. Tujuh motor tersebut di antaranya, program makan bergizi gratis (MBG), program 3 juta rumah, hilirisasi dan industrialisasi, digitalisasi hingga AI, pertanian dan pangan, pendidikan, dan kesehatan.
Yang terbaru, Primus menyebut peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indoensia. Danantara akan mengelola seluruh BUMN dengan aset diperkirakan Rp 15.000 triliun dengan modal sekitar Rp 1.000 triliun.
“Dari mana modal Rp 1.000 triliun Danantara ini? Dana senilai Rp 100 triliun diharapkan bersal dari dividen BUMN yang akan disetorkan pada Maret tahun ini,” ujar dia.
Di tengah rezim suku bunga tinggi global, Primus mengajak dunia usaha optimistis. Sebab, para emiten masih membukukan laba dan pasar saham masih mengalami kenaikan jumlah investor.
“Kita bersama pemeirntah menuju pertumbuhan 8%. Jadi kalau 2028-2029 ekonomi kita bisa 7% saja, itu berarti laba emiten akan melesat. Saya yakin dengan itu, kinerja saham akan tetap bagus,” kata dia.

