Saham XL Axiata (EXCL) Layak Jadi Pilihan di Tengah Bearish IHSG, Begini Penjelasannya
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatatakan penurunan sebanyak 4,67% year to date (ytd). Meski sudah anjlok, tren penurunan ini diperkirakan belum berakhir, sehingga investor disarankan untuk tetap bijak dalam meracik portofolio saham.
Analis pasar modal Edo Ardiansyah dari Phillip Sekuritas mengatakan, selama pasar masih bearish, investor sebaiknya ditempatkan pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan mampu memberikan dividen sebagai proteksi terhadap risiko yang ada.
Terkait pelemahan indeks ytd, dia mengatakan, sebagian besar dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk ketegangan geopolitik yang masih memanas, kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, serta potensi peningkatan inflasi. Sentimen negative juga datang dari terbatasnya ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Baca Juga
EXCL Siapkan Dividen Sebelum Merger, Analis Sebut Jadi Katalis Positif
“Volatilitas yang terlihat pada IHSG yang bergerak di rentang 6.500 hingga 7.325 mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian global,” ungkap Edo Ardiansyah.
Selama kondisi tersebut berlangsung, dia mengatakan, investor disarankan untuk selektif dalam memilih saham dengan sejumlah kriteria, yakni yang mencatatkan pertumbuhan laba yang tinggi. Sebab, pertumbuhan laba tinggi berpotensi hasilkan dividen tinggi, sehingga bisa menjadi buffer baik di tengah gejolak volatilitas pasar saham.
Dari sejumlah saham menari, dia mengatakan, PT XL Axiata Tbk (EXCL) bisa menjadi pilihan. Hal ini didukung kinerja keuangannya yang baik, dengan potensi pertumbuhan yang solid serta kemampuannya untuk tetap memberikan imbal hasil melalui dividen.
Pada 2024, EXCL mencatatkan pertumbuhan pendapatan 6% menjadi Rp 34,4 triliun. Di sisi lain marjin EBITDA Perseroan naik 290 basis poin (bps) menjadi 52% pada 2024 dibanding 49,1% pada 2023.
Baca Juga
Pemegang Saham Pengendali Beri Dukungan Solid Merger EXCL dengan FREN
Laba bersih mencapai Rp 1,8 triliun untuk keseluruhan tahun buku 2024 atau tumbuh 45% dibanding tahun sebelumnya. Hal ini dipandang sebagai kesuksesan EXCL dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah berbagai tantangan yang juga didukung dengan aktivitas operasional yang efisien.
Penguatan fundamental, terang dia, juga datang dari rencana EXCL melakukan aksi korporasi berupa merger dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Rencana ini akan dimintakan restu kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar pada 3 Maret 2025.
Yield 3,7%
EXCL juga berencana untuk membagikan dividen sebesar Rp 85 per saham sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Penggabungan Usaha. Dividen ini tidak bergantung pada harga pembelian kembali saham senilai Rp 2.350, dan tidak akan mempengaruhi rasio penggabungan. Selain itu, besaran dividen juga tercatat dua kali tinggi dari tahun lalu, dan menjadi yang tertinggi yang akan dibagikan dalam enam tahun terakhir yang memberikan sinyal positif bagi investor yang menginginkan aliran kas stabil di tengah ketidakpastian pasar.
“Pembagian dividen bergantung pada kecukupan modal XL, kondisi keuangan, dan hal-hal lainnya, dengan mempertimbangkan pertimbangan Direksi XL, dan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Pembagian dividen direncanakan akan dilakukan pada RUPS Tahunan XL berikutnya, yang akan berlangsung pada paruh pertama tahun 2025. Pembayaran dividen tidak akan mempengaruhi harga saham penggabungan XL yang telah disepakati sebesar Rp 2.350 per saham dan Rasio Pertukaran Penggabungan.” sebagaimana dikutip dari dokumen Ringkasan Rancangan Penggabungan Usaha.
Baca Juga
Begini Target Harga Saham XL Axiata (EXCL) jelang Penuntasan Merger dengan Smarfren (FREN)
“Jika melihat harga saat ini, maka potensi yield sebesar 3,7%. Selain itu, harga terakhir di Rp 2.270, juga masih terdiskon sekitar 3,5% dibandingkan dengan harga merger di Rp 2.350. Ini berarti terdapat potensi return yang menarik, sekitar 7%, yang meliputi dividen serta kemungkinan upside, potensi return ini menarik apalagi di tengah kondisi pasar yang masih dalam kondisi koreksi” ujar Edo Ardiansyah.
Saham EXCL juga dianggap sebagai opsi yang sangat baik untuk investasi jangka panjang. Merger ini diperkirakan akan menghasilkan sinergi pra-pajak yang dapat mencapai sekitar Rp 4,8 triliun hingga Rp 6,4 triliun per tahun, setidaknya tiga tahun setelah merger berjalan. Sinergi ini diharapkan dapat mendorong valuasi saham EXCL ke arah yang lebih tinggi.
Baca Juga
Asing Tiba-tiba Net Sell Jumbo Rp 3,47 Triliun, Penyumbang Ternyata dari Dua Saham ini
Pendapat ini senada dengan analisis yang disampaikan oleh Christian Sitorus, analis riset dari MNC Sekuritas, yang juga menyambut baik inisiatif merger tersebut. Menurut Christian, merger ini memberikan potensi besar bagi saham EXCL untuk menguat di masa depan.
Christian menjabarkan, jika merger mendapat lampu hijau dan sinergi mulai terealisasi 5-10% di tahun-tahun awal valuasi saham EXCL berpotensi naik dan membawa harga saham ke Rp 3.100 hingga Rp 3.400. Christian dalam laporannya juga memberikan rekomendasi beli saham EXCL.

