Permodalan Sangat Kuat, Bos BRI Pede Bisa Bagikan Seluruh Laba 2024 Jadi Dividen
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menegaskan permodalan masih kuat, meski harga sahamnya melemah dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, Bos BRI pede (percaya diri) bisa membagikan seluruh laba tahun 2024 menjadi dividen.
Hal itu disampaikan Direktur Utama BRI Sunarso setelah perseroan berhasil meraup keuntungan Rp 60,64 triliun sepanjang tahun 2024, meskipun situasi yang tidak mudah.
Baca Juga
Terungkap Sudah! BRI Bukukan Laba Rp 60,64 Triliun, Kredit Rp 1.355 Triliun di 2024
“Laba senilai Rp 60 triliun itu tidak perlu juga ditahan seluruhnya sebagai modal, karena modal kami sudah sangat kuat. Sehingga apa? Rp 60 triliun itu kalau diizinkan kami bagi semua dalam bentuk dividen, juga enggak masalah,” ujar Sunarso di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (17/2/2025).
Hal itu disampaikan sebagai respons atas keberadaan Youtuber yang menakut-nakuti investor ritel tentang kemerosotan harga saham BBRI. “Artinya saya ingin cerita ketakutan tentang saham BBRI yang diciptakan oleh para youtuber yang analisanya kadang-kadang juga di awang-awang itu, sesungguhnya bisa kita counter dengan fundamental BBRI yang sangat solid,” sambung mantan Dirut Pegadaian tersebut.
Pada kesempatan yang sama, dia memaparkan bahaya pemanasan global yang dinilai lebih menakutkan dibanding seruan para youtuber tentang saham BBRI. Pasalnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer terus meningkat dan menyebabkan temperatur global naik.
Dampak pemanasan global itu, antara lain menimbulkan gelombang panas, kekeringan, mencairnya es di kutub, kenaikan suhu laut, serta peningkatan permukaan laut yang menyebabkan rob hingga menenggelamkan beberapa daratan.
Baca Juga
Tutup Tahun 2024, 4 Bank Kakap (BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) Kompak Cetak Kenaikan Laba
Oleh karena itu, apabila manusia tidak melakukan upaya seperti menjalankan prinsip lingkungan, sosial, tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) maka suhu bumi bisa naik sampai 5-6 derajat celcius.
Berkas National Oceanic and Atmospheric Administration menunjukkan, terdapat suatu wilayah biogeografis di Asia Tenggara bernama Sundaland yang pernah ada selama 2,6 juta tahun.
Sunarso menceritakan, Sundaland meliputi wilayah Indonesia dan China, termasuk Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, dan Jawa yang seluruhnya menjadi satu.
Namun dataran tenggelam secara perlahan di Era Last Glacial Period 18.000 tahun silam sampai masuk masa Holocene 12.000 tahun silam. Sehingga wilayah-wilayah yang disebutkan tadi menjadi terpisah-pisah karena daratan yang tenggelam menjadi laut seperti sekarang.
“Jadi, nggak tertutup kemungkinan para Youtuber yang menakut-nakuti itu akan tenggelam seperti ini. Karena ini lebih menakutkan sebenarnya,” ucap Sunarso berseloroh.

