Tutup Tahun 2024, 4 Bank Kakap (BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) Kompak Cetak Kenaikan Laba
JAKARTA, investortrust.id - Menutup tahun 2024, empat bank kelas kakap di dalam negeri, yakni PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau Bank Mandiri (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI) kompak mencatatkan kenaikan laba.
Merujuk data dari laporan keuangan publikasi 2024 yang dihimpun Investortrust, Rabu (12/2/2025), salah satu bank kelas kakap, yakni BCA, mencatatkan laba bersih secara konsolidasi sebesar 54,84 triliun di tahun lalu, tumbuh 12,74% dibandingkan tahun 2023 yakni Rp 48,64 triliun.
Salah satu faktor pendorong kenaikan laba tersebut berkat pertumbuhan kredit sebesar 13,71%, dari Rp 801,24 triliun pada 2023 menjadi Rp 911,11 triliun di tahun lalu. Naiknya kredit, juga ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 2,90%, dari Rp 1.101,67 triliun di 2023 menjadi Rp 1.133,61 triliun pada 2024.
Dana murah atau current account and saving account (CASA) memiliki porsi terbesar dalam DPK bank berkode saham BBCA ini. Tecermin dari pangsa CASA yang mencapai 81,51% atau senilai Rp 923,98 triliun dari total DPK.
Dari sisi aset, bank yang dinakhodai Jahja Setiaatmadja ini mampu mencatatkan pertumbuhan total aset 2,92%, dari Rp 1.408,11 triliun pada 2023 menjadi Rp 1.449,30 triliun di 2024.
Bank kelas kakap lain yaitu BRI, mencatatkan total laba sepanjang 2024 mencapai Rp 60,15 triliun, tumbuh 0,09% dibandingkan 2023 sebesar Rp 60,10 triliun.
Bank berkode saham BBRI ini sukses mencatat pertumbuhan kredit sebesar 7,07% di tahun lalu menjadi RP 1.298,32 triliun, dibanding tahun 2023 sebesar Rp 1.212,58 triliun. Sementara rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) juga makin membaik, dari 2,95% pada 2023 menjadi 2,78% di tahun lalu.
Dari sisi penghimpunan dana, BRI berhasil mencatatkan DPK sebesar Rp 1.365,45 triliun per 2024, naik tipis 0,52% dibanding tahun sebelumnya yaitu Rp 1.358,33 triliun. Dana murah masih memiliki porsi cukup besar dari total DPK, dengan porsi 67,30% atau setara Rp 918,98 triliun di 2024.
Bank yang dipimpin Sunarso sebagai direktur utama ini mencatatkan kenaikan total aset sebesar 1,42%, dari Rp 1.965,01 triliun pada 2023 menjadi Rp 1.992,98 triliun di tahun lalu.
Bank kakap selanjutnya yang sukses mencatatkan pertumbuhan solid adalah Bank Mandiri. Hingga penghujung 2024, total kredit yang disalurkannya sebesar Rp 1.623,22 triliun, meningkat 19,37% dibanding 2023 yang tercatat Rp 1.359,83 triliun.
Salah satu pendorong naiknya kredit bank berkode saham BMRI ini adalah naiknya DPK sebesar 7,73%, dari Rp 1.576,95 triliun pada 2023 menjadi Rp 1.698,90 triliun di tahun lalu.
Dengan raihan tersebut, alhasil, membuat laba Bank Mandiri mencapai Rp 61,17 triliun di 2024, atau terkerek naik 1,85% dibanding 2023 yang tercatat Rp 60,05 triliun. Dipimpin Darmawan Junaidi sebagai direktur utama, Bank Mandiri sukses mencatatkan pertumbuhan aset 11,63% secara year on year (yoy) menjadi Rp 2.427,22 triliun di 2024.
Baca Juga
Ditopang Kenaikan Kredit 19,5%, Laba Bersih Bank Mandiri Tumbuh 1,31% Jadi Rp 55,78 Triliun
Di deretan bank kakap selanjutnya, ada BNI. Sepanjang tahun lalu, bank pelat merah ini mencatatkan kenaikan laba 2,65% dari Rp 20,91 triliun pada 2023 menjadi Rp 21,46 triliun.
Naiknya laba, salah satunya didorong oleh kenaikan kredit. Di mana, penyaluran kredit dari bank berkode saham BBNI ini mencapai Rp 775,87 triliun di tahun lalu, atau tumbuh 11,62% dibanding tahun 2023 yang tercatat Rp 695,08 triliun.
Namun, dari sisi DPK BNI mencatatkan pertumbuhan negatif 0,64%, dari Rp 810,73 triliun pada 2023 menjadi Rp 805,51 triliun di tahun lalu. Dari jumlah tersebut, dana murah masih menjadi kontributor terbesar dengan pangsa 71,69% atau setara Rp 577,48 triliun.
Menutup 2024, bank yang dipimpin oleh Royke Tumilaar sebagai direktur utama ini mencatatkan total aset Rp 1.129,81 triliun, atau tumbuh 3,97% dibanding tahun 2023 yang tercatat Rp 1.088,66 triliun.

