Mengapa Analisis Kadang Tak Akurat Prediksi Harga Saham?
Oleh Fendi Susiyanto, CWM, CTA , CSA
Founder and CEO Finvesol Consulting
INVESTORTRUST.ID — Analisis fundamental (fundamental analysis) sangat lazim dipakai untuk menakar nilai intrinsik (intrinsic value) suatu saham perusahaan yang listed di bursa efek. Alat analisis ini digunakan untuk membantu para investor atau trader mengambil keputusan investasi saham.
Analisis ini lebih fokus pada pengitungan nilai wajar per saham dari ekuitas maupun company. Caranya dengan melihat secara detail bagaimana pencapaian kinerja keuangan perusahaan, laporan keuangan, kinerja operasional, dan kinerja bisnis perusahaan, yang dipengaruhi oleh berbagai variabel makroekonomi dan mikroekonomi yang relevan, beserta proyeksinya beberapa tahun ke depan.
Baca Juga
Jika harga saham di pasar masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai intrinsiknya, maka dikatakan saham secara nilai fundamental masih 'murah' (undervalued), dan mendorong investor untuk membeli saham tersebut. Sebaliknya, jika harga saham di pasar lebih tinggi dibandingkan dengan nilai intrinsiknya, maka dikatakan saham sudah mahal (overvalued), dan akan mendorong investor untuk melepas saham tersebut atau tidak membelinya.
Meski penggunaanya sangat luas, analisis fundamental ini terkadang tidak sepenuhnya akurat untuk memprediksi harga saham di bursa. Sebagai contohnya, ketika banyak analis saham memberikan rekomendasi beli untuk suatu saham tertentu, justru yang terjadi adalah harga saham mengalami penurunan tajam. Sebut saja saham perbankan yang akhir-akhir ini justru mengalami penurunan tajam, meski direkomendasi beli sebelumnya oleh para analis.
Faktor Masalah
Saya tidak mengatakan analisa fundamental salah, namun setidaknya ada enam faktor atau alasan mengapa analisis terkadang gagal memberikan prediksi target harga saham yang akurat di pasar saham.
1. Sentimen Pasar (Market Sentiment): Analisis fundamental terutama berfokus pada kinerja dan kesehatan keuangan suatu perusahaan, potensi pendapatan, earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA), laba bersih, serta faktor kuantitatif lain seperti ekspansi dan divestasi. Namun, sentimen pasar, yang didorong oleh emosi dan persepsi investor, dapat memiliki dampak jangka pendek yang signifikan terhadap harga saham. Selama periode optimisme atau pesimisme yang ekstrem dari suatu pasar saham, harga saham dapat menyimpang jauh dari nilai intrinsiknya, sehingga sulit bagi analisis fundamental untuk memprediksi pergerakan harga saham secara jangka pendek.
2. Faktor Ekonomi Makro (Macroeconomic Factors): Kondisi ekonomi, suku bunga, inflasi, dan peristiwa geopolitik dapat memengaruhi harga saham dan pasar secara keseluruhan, secara signifikan. Analisis fundamental mungkin tidak selalu memperhitungkan faktor-faktor ekonomi makro ini, padahal dapat menyebabkan pergerakan pasar yang tidak terduga.
Baca Juga
Simak, Kebijakan Makroprudensial BI Beri Insentif Likuiditas ke Siapa?
3. Masalah Waktu (Timing Issues): Analisis fundamental biasanya merupakan pendekatan investasi jangka panjang. Bahkan jika suatu perusahaan secara fundamental kuat, harga sahamnya mungkin tidak langsung mencerminkan nilai intrinsiknya. Investor yang berfokus pada keuntungan jangka pendek mungkin mengabaikan perusahaan yang secara fundamental kuat, yang menyebabkan perbedaan antara harga saham perusahaan dan nilai intrinsiknya.
4. Informasi yang Tidak Lengkap: Analisis fundamental bergantung pada data historis dan yang tersedia untuk umum. Analisis ini mungkin tidak mencakup semua informasi yang relevan, terutama jika ada masalah keuangan yang tidak diungkapkan, atau faktor tersembunyi lainnya, yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.
5. Ketidakrasionalan Pasar (Market Irrationality): Pasar saham terkadang tidak rasional, dengan harga dipengaruhi oleh spekulasi, rumor, dan psikologi pasar, bukan faktor fundamental. Ketidakrasionalan ini dapat menyebabkan gelembung atau jatuhnya harga, yang sulit diprediksi menggunakan analisis fundamental tradisional.
6. Peristiwa Angsa Hitam (Black Swan Events): Peristiwa yang tidak dapat diprediksi, langka, dan ekstrem, yang sering disebut sebagai 'angsa hitam', dapat mengganggu pasar keuangan dan menentang analisis tradisional. Peristiwa ini, pada dasarnya, tidak terduga dan dapat berdampak besar pada harga saham.
7. Manipulasi Pasar: Dalam beberapa kasus, pelaku kejahatan dapat memanipulasi harga saham atau menyebarkan informasi palsu, guna mendistorsi fundamental perusahaan untuk sementara waktu. Manipulasi ini dapat menyesatkan investor, dan menyebabkan penilaian yang salah.
8. Dinamika Persaingan (Competitive Dynamics): Lanskap persaingan perusahaan dapat berubah dengan cepat, yang memengaruhi prospeknya. Teknologi baru, pesaing yang mengganggu, atau perubahan perilaku konsumen dapat menyulitkan untuk memprediksi keberhasilan jangka panjang perusahaan.
9. Bias Perilaku (Behavioral Bias): Investor tidak selalu rasional dan dapat dipengaruhi oleh bias perilaku seperti mentalitas, terlalu percaya diri, atau ketakutan. Bias ini dapat menyebabkan inefisiensi pasar yang mungkin tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh analisis fundamental.
10. Peristiwa Global (Global Events): Peristiwa di luar kendali perusahaan, seperti bencana alam, ketidakstabilan politik, atau krisis kesehatan global, misalnya pandemi Covid-19, dapat berdampak tiba-tiba dan parah pada pasar. Hal ini membuat analisis fundamental menjadi kurang efektif.
11. Perubahan Regulasi (Regulatory Changes): Perubahan regulasi atau standar akuntansi dapat memengaruhi laporan keuangan, dan mempersulit perbandingan data historis dengan data terkini. Hal ini berpotensi menyebabkan penilaian yang tidak akurat.
Lalu, bagimana solusinya bagi investor/trader? Beberapa faktor tersebut di atas perlu disikapi dengan bijak oleh investor maupun trader, agar investasi sahamnya dapat dikelola dengan sebaik mungkin.
Analisis fundamental memang sangat esensial untuk pengambilan keputusan investasi, namun dengan berbagai kelemahannya, investor maupun trader harus juga melengkapi diri dengan kemampuan untuk melihat tren (kecenderungan) harga. Analisis pembalikan arah tren bisa dipelajari dari analisis teknikal, analisis perilaku (behavioral analysis) dan quantitative analysis atau yang sering di kenal dengan quants. ***

